Sri Mulyani Kecewa Masih Banyak Koruptor di Kemenkeu

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

3/12/2019, 18.13 WIB

Korupsi paling banyak terjadi di Direktorat Jenderal Pajak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) mengikuti rapat dengan Komisi XI DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019). Rapat tersebut membahas privatisasi dan Penyertaan Modal Negara (PMN) pada Badan Usaha Milik Negara.
ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, masih terdapat pegawai pajak yang melakukan penyelewengan, bahkan menjadi makelar anggaran daerah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani kecewa masih terdapat banyak kasus korupsi di kementerian yang dipimpinnya. Korupsi paling banyak terjadi di Direktorat Jenderal Pajak. 

"Korupsi? Di Kemenkeu saja ada, ini yang saya masih kecewa sekali. Ini adalah apa yang disebut sebagai pengkhianatan," kata Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (13/2).

Menurut Sri Mulyani, masih terdapat pegawai pajak yang melakukan penyelewengan, bahkan menjadi makelar anggaran daerah.  Hal ini diketahui mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini lantaran masih menerima keluhan dari para pejabat daerah. 

(Baca: Saring Dewan Pengawas KPK, Jokowi Cari Sosok Paham Pidana hingga Audit)

"Banyak yang tanya kenapa cairin DAK masih harus melobi dan pencairannya datang langsung. Padahal  ada sistem. Ini artinya masih ada yang mencari cara, yang profesinya makelar," ujarnya.

Ia menekankan kepada para pegawai Kemenkeu untuk memiliki integritas. Penyebab utama korupsi adalah perasaan tak cukup dalam diri seseorang. 

 (Baca: Enam Menteri Belum Serahkan Laporan Harta Kekayaan ke KPK)

Sri Mulyani juga sakit hati karena nama baik Kemenkeu tercoreng akibat ulah para oknum. Ia pun siap menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memulai pemberantasan korupsi di lembaga-lembaga strategis.

"Dalam situasi seperti ini, kita harus keras. Kita harus melakukan reformasi birokasi mulai dari institusi yang paling strategis seperti pajak, bea cukai, badan pemeriksa keuangan dan mahkamah agung," tutupnya.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan