Pasca-Serangan AS, Harga Bitcoin di Iran Tembus Rp 360 Juta

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

6/1/2020, 14.08 WIB

Para pelaku usaha cryptocurency menilai, kenaikan harga bitcoin di Iran karena kekhawatiran pasar atas situasi politik pasca-serangan AS ke Irak.

Pasca-Serangan AS ke Irak, Harga Bitcoin di Iran Tembus Rp 360 Juta
PXHERE.com
Ilustrasi bitcoin.

Pasca-serangan udara Amerika Serikat (AS) ke Baghdad, Irak pada Jumat (3/1) lalu, harga bitcoin di Iran melebihi rerata global. Salah satu penyebabnya, serangan itu menewaskan Jenderal Qassem Soleimani, pemimpin Pasukan Penjaga Revolusioner Iran.

Berdasarkan situs Localbitcoins.com, harga bitcoin (BTC) di Iran ada yang mencapai IRR 1.091.792.000 atau sekitar Rp 360 juta per koin. Sedangkan data Coinmarketcap.com, harga mata uang virtual (cryptocurrency) itu secara global US$ 7.548 atau sekitar Rp 104,8 juta.

Supervisory Board of Asosiasi Blockchain Indonesia Pandu Sastrowardoyo menilai, naiknya harga bitcoin di Iran disebabkan oleh situasi politik di negara tersebut. Menurut dia, pasar memindahkan investasinya dari mata uang ke bitcoin karena khawatir terhadap ketidakpastian ekonomi pasca-serangan AS itu.

"Sekarang, harga bitcoin di Iran bisa semahal itu karena warga di sana merasa khawatir bahwa kondisi mata uang yang mereka gunakan tidak akan stabil," ujar Pandu kepada Katadata.co.id, hari ini (6/1).

(Baca: Bursa Kripto Asing Serbu Pasar Indonesia)

Menurut dia, masyarakat Iran khawatir bakal sulit menjual instrumen investasi berupa mata uang ketika situasi politik tidak terkendali. Ia menduga, penduduk di negara itu membeli bitcoin supaya sewaktu-waktu bisa pergi sementara ke negara lain.

"Jadi, banyak sekarang (masyarakat) yang membeli bitcoin di Iran karena bakal lebih mudah bagi mereka apabila digunakan untuk pindah negara, simpanan saat menjadi pengungsi, saat ini alternatifnya hanya bitcoin," kata Pandu.

Sedangkan Analis Cryptocurrency Yusuf Musa mengatakan, naiknya harga bitcoin di Iran dipengaruhi oleh persediaan (supply) dan permintaan (demand). Selain itu, disebabkan oleh beberapa faktor seperti situasi politik yang terjadi di Iran.

"Keterbatasan transaksi aset kripto yang dapat dilakukan di Iran dapat menjadi faktor tingginya harga BTC," ujar Yusuf. Hal ini berkaitan dengan konflik antara Iran dan AS.

Meski demikian, Yusuf optimistis para pemegang (holder) mengharapkan kondisi ini merupakan awal dari kenaikan harga (bullish) BTC pada tahun ini. (Baca: 6 Perusahaan Besar Tinggalkan Proyek Mata Uang Digital Facebook)

CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan, bitcoin merupakan aset penyimpanan yang aman (safe haven asset class). Karena itu, menurut dia, warga Iran membeli cryptocurrency itu di saat situasi politik tidak baik seperti sekarang ini.

“Warga Iran ketakutan untuk menyelamatkan kekayaannya apabila terjadi perang," ujar Oscar.

Indodax mencatat, volume perdagangan aset kripto di dunia selama tahun lalu menurun signifikan dibanding 2017. Meski begitu, nilai kapitalisasinya termasuk salah satu yang tertinggi dibandingkan pilihan investasi lainnya selama setahun terakhir.

Perusahaan mencatat, harga bitcoin terendah pada 2012 sebesar US$ 4. Lalu naik menjadi US$ 65, US$ 200, US$ 185, US$ 365, US$ 780 secara berturut-turut sejak 2013 hingga 2017. Pada 2018, nilai terendahnya US$ 3.200 dan menjadi US$ 3.360 pada tahun lalu.

(Baca: Popularitas Bitcoin di Indonesia Kalahkan Malaysia hingga Prancis)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan