Magang Kelas Dunia, Kebijakan Nadiem agar Mahasiswa Siap Kerja

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Muchamad Nafi

12/2/2020, 20.51 WIB

Nadiem membolehkan mahasiswa magang selama tiga semester di luar program studi. Jawaban atas keluhan perusahaan terhadap waktu magang yang sangat singkat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019). Rapat kerja tersebut membahas sistem zonasi dan Ujian Nasional (UN) tahun 2020, serta persiapan pelaksana
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mendorong mahasiswa mengikuti program magang untuk meningkatkan kapasitas personalnya. Caranya melalui pelatihan independen kelas dunia di sejumlah perusahaan.

Kementeriannya telah memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan persetujuan magang dari rektor universitas agar bekerja di perusahaan milik negara maupun swasta. Nadiem memutuskan mahasiswa bisa magang selama tiga semester di luar program studi.

Untuk mendukung hal itu, Kementerian Pendidikan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuka program magang kelas internasional. Misalnya, BUMN bermitra dengan perusahaan luar negeri untuk membuat program magang. Dapat pula magang di Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menggarap sejumlah proyek di Desa.

(Baca: Nadiem Buka Kans Luncurkan Kebijakan Pembenahan Pendidikan Jilid Tiga)

“Bisa saja Pertamina membuat program untuk teknik hulu, dan universitas memperbolehkan,” kata Nadiem dalam acara pembukaan Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (12/2).

Menurut Nadiem, masalah program magang selama ini yaitu sulitnya perguruan tinggi mendapatkan perhatian dari pihak swasta. Selain itu, pihak swasta juga komplain terkait waktu magang yang sangat singkat yakni hanya tiga bulan.

Hal ini berefek pada kerja sama antara kedua institusi sulit terjalin. “Kuliah kerja nyata dua bulan, orientasinya satu bulan. Cuma dapat tiga hingga empat SKS (Satuan Kredit Semester). Bagaimana ingin investasi,” ujarnya.

(Baca: Nadiem Makarim: Sekolah Bisa Pakai 50% Dana BOS untuk Guru Honorer)

Nadiem juga mengimbau agar program magang ini tidak dilihat sebagai tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan, melainkan sebagai program yang berkelanjutan. Apalagi bila yang menyelenggarakan BUMN yang juga perlu membuktikan keberadaannya hadir untuk negara.

Di sisi lain, dia membantah bahwa magang hingga tiga semester semata hanya berorientasi pada dunia kerja. Nadiem menyatakan bahwa proses ini bisa memperkuat karakter mahasiswa untuk lebih siap menghadapi dunia nyata. Melalui program magang ini akan memupuk keahlian dan kemampuan pemecahan masalah.

“Penguatan karakter tidak akan terjadi jika mahasiswa hanya berenang di kolam renang, bukan lautan terbuka,” ujarnya. “Kita harus melatih mahasiswa berenang di lautan terbuka agar nanti tidak kaget dengan tantangan apapun yang dihadapi.”

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan