Warga AS yang Ajukan Tunjangan Pengangguran Melonjak Imbas Corona

Penulis: Desy Setyowati

27/3/2020, 06.27 WIB

Jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran melebihi kondisi saat resesi 2007, dan melampaui rekor 1982. Hal ini karena pandemi corona.

Pengajuan Tunjangan Pengangguran di AS Capai Rekor Efek Pandemi Corona
ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst/ama/cf
Jonathan Ernst Dr. Anthony Fauci, Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, tersenyum saat ia memberikan briefing harian kepada tim khusus penanganan virus korona dengan Wakil Presiden Mike Pence dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, Rabu (25/3/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan tunjangan pengangguran (unemployment benefits) dmenyentuh rekor tertinggi, yakni 3,28 juta dalam sepekan per 21 Maret lalu. Tingginya klaim ini disebabkan oleh pandemi corona.

Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS, jumlah tunjangan pengangguran itu merupakan yang tertinggi sejak pencatatan awal pada 1967. Rekor sebelumnya yakni 695 ribu selama pekan yang berakhir 2 Oktober 1982.

Sedangkan, pada saat resesi 2007-2009, pengajuan tunjangan pengangguran hanya menyentuh 665 ribu. Sebanyak 8,7 juta orang kehilangan pekerjaan saat itu.

(Baca: Senat AS Dukung Trump Gelontorkan Stimulus Rp 32.000 T Hadapi Corona)

Ekonom senior Glassdoor, Daniel Zhao melalui email menyampaikan, tidak ada perbandingan yang memadai terkait jumlah pengajuan tunjangan pengangguran. Yang paling memungkinkan yakni membandingkan data saat ini dengan ketika terjadi bencana alam seperti badai besar.

“Namun, seperti yang ditunjukkan dalam laporan itu, wabah virus corona secara ekonomi mirip dengan badai besar yang terjadi di setiap negara bagian selama berminggu-minggu," kata Zhao dikutip dari CNN Internasional, kemarin (26/3) malam.

Sebelum adanya pandemi, pengajuan tunjangan pengangguran hanya 200 ribu per pekan atau tergolong rendah. Saat itu, pasar tenaga kerja kuat.

(Baca: Pemerintah Bantu Pengusaha lewat Surat Utang, Syaratnya Tak Ada PHK)

Pandemi itu membuat operasional sebagian besar perusahaan terganggu, karena upaya negara dalam menekan penyebaran virus corona. Kebijakan yang dimaksud seperti membatasi kegiatan warga di luar rumah (physical distancing) hingga isolasi wilayah (lockdown).

Alhasil, banyak perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK karyawan secara permanen atau untuk sementara waktu. Ekonom pun memperkirakan, jutaan orang kehilangan pekerjaan dalam beberapa minggu ke depan.

Mantan kepala ekonom untuk Departemen Tenaga Kerja AS, yang sekarang bekerja di Institut Kebijakan Ekonomi, Heidi Shierholz mengatakan bahwa lonjakan klaim pengangguran hanya puncak gunung es. "Kami memperkirakan, pada musim panas, 14 juta pekerja akan kehilangan pekerjaan karena goncangan virus korona," katanya melalui Twitter.

(Baca: Ratusan Ribu Buruh Terancam PHK, Serikat Pekerja Usulkan 8 Solusi)

Berdasarkan survei Reuters terhadap beberapa ekonom, pengajuan tunjangan pengangguran diprediksi mencapai 4 juta dalam sepekan.

Sekretaris Perburuhan AS Eugene Scalia mengatakan, peningkatan jumlah klaim pengangguran kali ini tidak terduga. “Berdasarkan pengakuan warga Amerika di seluruh negeri, kita harus menghentikan sementara kegiatan tertentu untuk mengalahkan virus corona," kata dia dalam pernyataan resmi, dikutip dari Reuters.

(Baca: Industri Penerbangan Dunia Dipukul Corona, Potensi Rugi US$ 252 Miliar)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan