Ada Transaksi Jumbo Penjualan Bank Permata, IHSG Sesi I Turun 0,42%

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

20/5/2020, 13.38 WIB

Bangkok Bank memfinalisasi pembelian saham Bank Permata senilai Rp 33,3 triliun di pasar non-reguler.

ihsg hari ini, ihsg sesi i, saham bank permata, akuisisi bank permata
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pd.
IHSG sesi I hari ini, Rabu (20/5), turun 0,42% ke level 4.529,62. Perdagangan sesi I diwarnai transaksi jumbo akuisisi saham Bank Permata oleh Bangkok Bank.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 0,42% ke level 4.529,62 pada perdagangan sesi I Rabu (20/5). Pada sesi I ini Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan transaksi jumbo hingga mencapai Rp 35,85 triliun dari transaksi penjualan saham PT Bank Permata Tbk kepada Bankok Bank.

Nilai tersebut berasal dari perdagangan 28,07 miliar unit saham. Besarnya nilai transaksi ini, didorong oleh transaksi akuisisi Bank Permata oleh Bangkok Bank senilai Rp 33,3 triliun di pasar non-reguler yang melibatkan 24,7 miliar unit saham.

Usai transaksi tersebut, saham Bank Permata ditutup menguat 1,59% menyentuh level Rp 1.280 per saham. Sedangkan salah satu pemiliknya yang menjual Bank Permata, PT Astra International Tbk (ASII) turun 1,27% di level Rp 3.900 per saham.

Adapun, pada awal perdagangan IHSG sempat naik tipis 0,28% ke level 4.561,55. Meski demikian laju indeks sesuai dengan prediksi beberapa analis yakni bergerak bervariasi dengan potensi terkoreksi.

(Baca: Rumor Rampungnya Akuisisi Kerek Saham Bank Permata dan Astra )

Salah satu sentimen positif yang akan menopang laju indeks hari ini masih terkait pengembangan vaksin virus corona yang disebut-sebut semakin nyata. Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai bahwa sentimen vaksin cukup sensitif menggerakan market ke depannya.

"Sehingga, kehati-hatian merupakan hal yang terpenting saat ini karena ada kemungkinan besar hal ini akan mempengaruhi pergerakan pasar hari ini," kata Nico dalam risetnya.

Sementara, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Anthony Kevin menilai keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 4,5%, masih mempengaruhi pasar. Kebijakan BI ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian akibat pandemi virus corona.

Keputusan BI tersebut berbeda dengan proyeksi Mirae tentang penurunan suku bunga sebesar 25 bps. Menurut Anthony data makroekonomi yang menyoroti tingkat keparahan dampak corona pada perekonomian Indonesia, seharusnya memaksa bank sentral untuk menurunkan suku bunga yang sudah ditunggu-tunggu.

(Baca: IHSG Hari Ini Diproyeksi Naik, Saham Bank BUMN Jadi Rekomendasi)

Menurutnya, penurunan suku bunga 25 bps oleh Bank Indonesia dapat dibenarkan secara fundamental. "Sebenarnya ada ruang lebih dari cukup bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps," kata Anthony dalam risetnya.

Dia nilai, Indonesia berada di belakang negara-negara berkembang lainnya yang lebih aktif dalam mengurangi tingkat kebijakan masing-masing. Alasan selain itu, diperkirakan bahwa inflasi akan turun di bawah 3% pada 2020, hanya karena lemahnya permintaan.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan