Minim Edukasi, Keberhasilan Produk UMKM di Platform Digital Hanya 10%

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Ekarina

26/6/2020, 22.41 WIB

UMKM belum memiliki market intelligent atau kemampuan menganlisa kebutuhan pasar dengan baik.

Minim Edukasi, Keberhasilan Produk UMKM di Platform Digital Hanya 10%.
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Perajin menyelesaikan pembuatan gitarÊ di sentra produksi gitar rumahan. Menteri Koperasi dan UKM memaparkan kendala UMKM dalam menjajal bisnis di platform digital.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki menyebutkan tingkat keberhasilan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjual produknya pada platform digital hanya berkisar 4%-10%. Hal ini disebabkan minimnya edukasi kepada pengusaha kecil mengenai tata cara penjualan secara daring.

Teten mengatakan, jika kondisi tersebut terus  dibiarkan, maka akan sangat berat memulihkan bisnis UMKM di tengah pandemi corona yang memerlukan inovasi dan perubahan strategi bisnis.

"Tingkat keberhasilan UMKM pada e-commerce hanya 4%-10% yang bisa bertahan, saya kira kondisi ini cukup berat dan perlu ada upaya-upaya untuk terus melakukan edukasi kepada para pelaku UMKM," kata Teten dalam diskusi daring Katadata Insight Center bertajuk 'Kebangkitan UMKM di Era Pandemi Covid-19' di Jakarta, Jumat (26/6) malam.

(Baca: Ragam Strategi UMKM di Tengah Pandemi Covid-19)

Teten juga menyebut minimnya tingkat keberhasilan UMKM pada platform digital disebabkan lambatnya adaptasi mereka untuk segera beralih produksi barang yang sedang tren atau naik daun. Sebab, UMKM tak memiliki market intelligent atau kemampuan menganlisa kebutuhan pasar dengan baik.

Kondisi kian sulit dengan minimnya pengecer atau resaller dari kalangan pemuda yang melek teknologi untuk turut serta memasarkan produk UMKM secara daring. "Jadi strategi kami meningkatkan daya tahan UMKM di e-commerce dengan memberikan pelatihan kepada mahasiswa yang tidak gagap teknologi," kata dia.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC), UMKM seringkali mengalami kendala saat menjalankan usaha menggunakan teknologi digital.

Tantangan itu di antaranya belum adanya kemampuan menggunakan internet (34%), kurangnya pengetahuan menjalankan usaha online (23,8%), pegawai tak siap (19,9%), infrastruktur tidak layak (18,4%), dana kurang memadai (9,7%), dan banyaknya pesaing (3,4%).

Survei tersebut dilakukan terhadap 206 responden UMKM di lima kategori usaha. Mereka berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebagian besar UMKM ini memiliki skala usaha mikro dengan omzet di bawah Rp 300 juta per tahun.

(Baca: Survei KIC: Mayoritas UMKM Terpukul Corona, Ada Dua Strategi Bertahan)

Hasil survei juga menunjukkan bahwa 82,9% UMKM terpukul pandemi Covid-19. Hanya, 5,9% yang penjualannya positif selama krisis kesehatan saat ini. 

Sebelum ada pandemi, hampir seluruh UMKM dalam kondisi cukup baik. "Kini, 56,8% di antaranya dalam kondisi buruk. Hanya 14,1% yang masih berada pada situasi yang baik,” demikian isi survei KIC dikutip Jumat (26/6). 

Bahkan, 63,9% dari UMKM yang terpukul corona, omzetnya turun lebih dari 30%. Sedangkan dari UMKM yang terdampak corona,  hanya 3,8% yang omzetnya meningkat.

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha