Harga Minyak Bangkit ke US$ 86 per Barel Usai Merosot Tajam Pekan Lalu
Harga minyak mentah dunia berbalik tajam usai terkoreksi cukup dalam sepanjang pekan lalu. Dorongan terhadap harga berasal dari meningkatnya kekhawatiran pengetatan pasokan seiring kondisi geopolitik.
Harga Brent naik menembus level US$ 86 per barel setelah pada pekan lalu turun ke level US$ 84,83 per barel. Sedangkan minyak mentah Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI) naik ke level US$ 81,14 per barel.
Kedua harga minyak acuan dunia tersebut naik dengan stabil sepanjang tahun ini. Brent telah naik hampir 11% sedangkan WTI naik 12,5% hingga penutupan pada pekan lalu.
Kenaikan ini terkait dengan keyakinan bahwa resesi yang sulit mulai teratasi, dengan suku bunga di negara-negara besar diperkirakan akan turun pada pertengahan tahun ini, meski OPEC+ telah memperpanjang pembatasan pasokan hingga kuartal kedua.
“Kekhawatiran terhadap pasokan minyak global semakin meningkat akibat serangan terhadap fasilitas energi Rusia dan infrastruktur energi Ukraina dan memudarnya harapan gencatan senjata konflik Israel-Hamas,” kata Hiroyuki Kikukawa dari NS Trading seperti dikutip Reuters, Senin (25/3).
Sementara itu serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Sebuah kilang minyak Rusia diserang pesawat tak berawak atau drone milik Ukraina sehingga kehilangan setengah kapasitasnya.
Sebaliknya, Rusia juga menyerang fasilitas pembangkit dan transmisi Ukraina minggu lalu dan akhir pekan lalu, menyebabkan pemadaman listrik di banyak wilayah.
Di Timur Tengah, pasukan Israel melanjutkan serangan mereka di Gaza pada hari Minggu (24/3), dengan mediasi yang didukung AS oleh Qatar dan Mesir gagal mencapai kesepakatan antara Israel dan Hamas mengenai gencatan senjata.
Di tempat lain, pasukan AS menyerang enam kendaraan udara tak berawak Houthi di Laut Merah bagian selatan pada Sabtu (23/3) setelah kelompok tersebut meluncurkan empat rudal ke arah sebuah kapal tanker minyak milik Cina, menurut informasi dari Komando Pusat AS.
“Perkiraan permintaan minyak untuk 2024 sedikit meningkat karena pemulihan ekonomi pascapandemi terus berlanjut setelah penurunan yang disebabkan oleh inflasi, tetapi OPEC tetap mempertahankan pembatasan pasokannya,” kata pialang minynak PVM, Tamas Varga.
“Hal ini telah menciptakan penyangga yang signifikan yang dapat digunakan jika terjadi kekurangan pasokan, yang merupakan elemen kunci dalam menentang kenaikan berkelanjutan Brent di atas US$ 90 per barel,” katanya.
