Kurangi Impor, Pemerintah Akan Bangun Kilang Minyak Raksasa di Sumatra

Mela Syaharani
7 Maret 2025, 16:36
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana pembangunan kilang minyak baru berkapasitas 500 ribu barel di Pulau Sumatra. Menurutnya, pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bisnis.

“Ada pertimbangan bisnis,” kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (7/3). Namun dia merinci lebih lanjut alasan yang dimaksud.

Bahlil menjelaskan bahwa pembangunan kilang ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak yang saat ini menjadi pemasok utama kebutuhan energi nasional. Proyek ini juga merupakan bagian dari strategi hilirisasi energi nasional.

Jika kilang minyak dengan kapasitas 500 ribu barel per hari benar-benar dibangun di Sumatra, maka ini akan menjadi kilang terbesar di Indonesia, melampaui Kilang Cilacap yang saat ini berkapasitas 348 ribu barel per hari.

Investasi dan Sumber Pendanaan

Pembangunan kilang ini diperkirakan menelan investasi sebesar US$ 12,5 miliar atau sekitar Rp 203,87 triliun. Proyek ini berpotensi mendapatkan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Dia menegaskan bahwa proyek ini bertujuan untuk memastikan pasokan energi yang lebih stabil dan berkelanjutan

“Kami akan membangun refinery yang, insya Allah, kapasitasnya sekitar 500 ribu barel. Ini akan menjadi salah satu yang terbesar nantinya,” ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Rabu (5/3).

Kilang ini dirancang untuk mengolah minyak mentah dari dalam negeri maupun impor, dengan kapasitas produksi mencapai 531.500 barel per hari. Dengan kapasitas tersebut, kilang ini diharapkan dapat memperkuat pasokan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.

Selain mengurangi impor, proyek ini berpotensi menghemat hingga 182,5 juta barel minyak per tahun, atau setara dengan penghematan US$ 16,7 miliar. Dari sisi tenaga kerja, pembangunan kilang ini diperkirakan dapat menyerap sekitar 63.000 tenaga kerja langsung dan 315.000 tenaga kerja tidak langsung.

Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui proposal daftar proyek hilirisasi tahap pertama 2025 yang diajukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional.

Proyek ini mencakup 21 proyek prioritas di 26 sektor komoditas pertambangan dengan total nilai investasi mencapai US$ 40 miliar atau setara Rp 659,2 triliun.

Proyek Prioritas Lainnya

Beberapa proyek prioritas yang disepakati antara lain:

  • Pembangunan kilang minyak berkapasitas 500 ribu barel.
  • Pembangunan tempat penyimpanan minyak mentah di Pulau Nipah, Batam, untuk memperkuat pasokan minyak baku domestik selama 30 hari.
  • Proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di tiga lokasi di Sumatra dan Kalimantan.
  • Selain sektor mineral, batu bara, minyak, dan gas, proyek hilirisasi juga mencakup sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan.

“Kami sepakati baru 21 proyek, dan tahap berikutnya kami akan tingkatkan lagi,” kata Bahlil.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...