ESDM: Perusahaan Rusia Lirik Peluang Eksplorasi Mineral hingga Batu Bara RI
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan minat perusahaan asal Rusia untuk masuk ke sektor mineral dan batu bara Indonesia.
“Perusahaan Rusia berminat untuk eksplorasi saja,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, di Jakarta, Kamis (7/8).
Tri tidak merinci jenis mineral yang diminati. Menurutnya, Rusia saat ini membuka peluang untuk berbagai jenis mineral. “Mineral apa pun, jadi hanya peluang, mereka bertanya. Mau itu nikel, batu bara, emas, kan kalau nanya boleh saja,” ujarnya.
Mineral dan batu bara menjadi sektor energi baru yang dilirik Rusia. Sebelumnya, kedua negara telah membahas potensi kerja sama di sektor pembangkit listrik tenaga nuklir dan impor minyak mentah.
Membuka Peluang Impor Minyak Mentah Rusia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia membuka peluang impor minyak mentah atau crude dari Rusia, menindaklanjuti pembahasan dalam lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada Juni lalu.
“Penjajakan ini sudah kami lakukan, saya besok rapat secara marathon dengan tim dari Rusia, termasuk pengusaha BUMN Rusia yang akan datang ke Indonesia. Artinya potensi impor ada, tapi dalam konteks saling menguntungkan,” kata Bahlil dalam konferensi pers Jakarta Geopolitical Forum IX/2025, Selasa (24/6).
Bahlil menegaskan Indonesia menganut asas politik dan ekonomi bebas aktif. “Selama itu saling menguntungkan, termasuk di sektor migas,” ujarnya.
Selain impor, kerja sama dengan Rusia juga mencakup peningkatan lifting migas, baik dari sumur tua maupun sumur baru, asalkan bisa menambah produksi domestik.
“Karena harus kita akui bahwa Rusia adalah salah satu negara di dunia yang mempunyai pengalaman panjang di bidang perminyakan. Kita punya sumur, kita harus belajar dan kolaborasi,” ucapnya.
Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah membahas konsep kerja sama nuklir dengan Rusia. “Kerja samanya seperti apa? Sekarang konsepnya sedang dibahas. Kami sudah membahas tawaran mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, tawaran kerja sama nuklir yang disampaikan dalam lawatan Rusia pekan lalu belum dibahas secara detail.
