ESDM Sebut Kuota Impor BBM SPBU Swasta Naik Sekitar 10% di 2026

Mela Syaharani
6 Januari 2026, 10:22
bbm, spbu swasta
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman (kanan).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebut pengelola jaringan stasiun bahan bakar umum swasta sudah boleh mengimpor bahan bakar minyak lagi di 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan kuota impor tahun ini mengalami kenaikan. “(Jumlah kenaikan) mirip seperti tahun-tahun sebelumya (10%),” kata Laode saat ditemui di kantor BPH Migas, Jakarta, Senin (5/1).

Proses impor BBM ini, ia pastikan dilakukan secara berkelanjutan, antara pengiriman dan barang impor masuk. Dengan begitu proses alur minyak ke SPBU swasta tidak berhenti.

SPBU swasta saat ini sudah mulai menyalurkan BBM dan mengisi pasokan pasca kelangkaan Agustus 2025. Melalui impor ini Laode menyebut seharusnya kondisi stok BBM di SPBU swasta sudah normal. “Kan kami tidak menghentikan,” ujarnya.

Kelangkaan BBM Agustus 2025

Mayoritas SPBU swasta mengalami kekosongan pasokan BBM pada Agustus 2025. Kelangkaan ini berasal dari kebijakan pemerintah yang membatasi impor bagi SPBU swasta. 

BP-AKR dan Shell Indonesia mengungkapkan mereka mendapatkan surat dari Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung pada 17 Juli 2025 yang menyatakan kuota impor bagi SPBU swasta tahun ini hanya 110% dari total penjualan 2024.

Untuk mengatasi kelangkaan BBM di SPBU swasta, pemerintah meminta mereka untuk membeli base fuel BBM dari Pertamina. Hingga akhir 2025 terdapat 3 SPBU swasta yang sepakat impor dari Pertamina.  

“Total suplai kepada seluruh SPBU Swasta (BP-AKR, Vivo, dan Shell Indonesia) mencapai 430 MB menunjukkan kapasitas suplai kami yang kuat, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan energi nasional,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun dalam siaran pers pada 5 Desember 2025.

Menurut dia, jumlah impor tersebut terdiri atas 100 MB untuk BP-AKR tahap pertama, 100 MB untuk Vivo Energy, 130 MB untuk BP-AKR tahap kedua, dan 100 MB untuk Shell Indonesia.

Shell menjadi pengelola SPBU swasta ketiga yang sepakat menerima pasokan dari Pertamina. Sebelumnya, BP-AKR juga telah meneken kesepakatan yang sama pada akhir Oktober dan Vivo pada November 2025.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...