Ormas Kelola Tambang, NU dan Muhammadiyah Janjikan Prinsip Berkelanjutan
Survei Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan organisasi masyarakat (ormas) keagamaan dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah akan menerapkan prinsip green mining atau tambang berkelanjutan, jika mereka mengelola tambang.
Research Analyst KIC Kanza Nabeela Puteri mengatakan hal ini bisa terlihat dari beberapa komitmen masing-masing ormas. Berdasarkan pandangan pimpinan Muhammadiyah, mereka tahun lalu telah meluncurkan program Green Dean dan aktivitas-aktivitas hijau lainnya.
“Hal itu untuk mengawal komitmen Muhammadiyah dalam mengelola tambang,” kata Kanza dalam Katadata Policy Dialogue bertajuk “Hasil Survei Tambang untuk Ormas: Apa Dampaknya bagi Umat?”, Rabu (28/1).
Sementara di ormas NU, mereka menggunakan pendekatan fiqh lingkungan dan reasonable environmentalism. NU juga memastikan bisa mengurangi dampak tambang bagi lingkungan, termasuk juga melaksanakan proses reklamasi secara bertanggung jawab.
Survei Katadata Insight Center ini secara total dilakukan kepada 415 responden dengan metode tatap muka pada 18 Oktober – 24 November 2025. Responden terdiri atas berbagai rentang usia, pekerjaan, pendidikan, jabatan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Tidak hanya pimpinan, aspirasi internal ormas juga mengatakan anggota serta pengurus ormas ingin mendorong adanya tambang yang ramah dan berkelanjutan. Hal ini tampak dari hasil survei KIC yang menyatakan 62% responden mendukung hal tersebut.
“Mereka berpandangan, tambang itu harus hijau, harus green mining, harus bisa menyalurkan dampak ekonomi kepada umat. Baik dalam bentuk beasiswa, pendidikan, dan layanan publik lainnya,” ujarnya.
Untuk mendukung terwujudnya prinsip tersebut, masing-masing ormas memiliki fokusnya tersendiri. Muhammadiyah lebih menekankan perlunya penguatan profesionalisme dan tata kelola. Sementara NU menekankan pada penguatan kemitraan bisnis dengan BUMN ataupun pihak swasta.
Mayoritas Setuju Kelola Tambang
Selain prinsip tambang berkelanjutan, hasil survei tersebut juga menunjukkan mayoritas anggota ormas keagamaan NU dan Muhammadiyah mendukung pengelolaan tambang.
Sebanyak 85,5% dari 208 responden NU mendukung pengelolaan tambang bagi ormas. Selain itu, ada 75,4% dari 207 responden Muhammadiyah juga mendukung hal tersebut.
Responden NU menyatakan tingkat dukungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Muhammadiyah untuk mengelola tambang. Sikap kedua ormas ini utamanya dipengaruhi oleh pimpinan pusat.
Selain itu ada beberapa faktor lain untuk mendukung pengelolaan tambang ini. Pertama, peluang memperkuat posisi ekonomi umat. Kedua, membiayai program dakwah, sosial, dan pendidikan secara mandiri.
Ketiga, percaya bahwa pengurus ormas mampu mengelola tambang dengan amanah dan profesional. Keempat, lebih setuju dikelola ormas dibandingkan perusahaan asing. Kelima, mengacu pada keputusan pimpinan pusat, dan terakhir ada fatwa atau ajaran agama yang memperbolehkan.
