Selat Hormuz Masih Ditutup, Harga Minyak Naik hingga US$ 83,07 per Barel

Mela Syaharani
5 Maret 2026, 10:20
Selat Hormuz, harga minyak
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.
Ilustrasi kapal tanker minyak
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia kembali naik pada Kamis (5/3). Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang. Perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) menghambat mengalirnya produksi migas Timur Tengah ke pasar global. Beberapa fasilitas produksi saat ini juga dibatasi.

Minyak Brent diperdagangkan naik US$ 1 ,67, atau 2,05%, menjadi US$ 83,07 per barel pada pukul 01.41 GMT. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,94, atau 2,60%, menjadi US$ 76,60 per barel.

Perang di Timur Tengah meluas usai serangan AS yang menghantam kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka. Perluasan ini juga didukung oleh pernyataan anggota senat AS dari Partai Republik yang mendukung sikap Presiden Donald Trump untuk melakukan serangan militer ke Iran.

Mereka menolak terjadinya resolusi bipartisan yang bertujuan menghentikan perang udara dan mewajibkan kongres untuk mengesahkan tindakan militer terhadap Iran.

Perang Iran-AS juga berdampak pada pemangkasan produksi minyak mentah Irak. Negara anggota OPEC ini memangkas 1,5 juta barel minyak per hari. “Karena kekurangan ruang penyimpanan dan rute ekspor,” kata seorang pejabat OPEC, dikutip dari Reuters, kamis (5/3).

Selain Irak, Qatar juga mengumumkan terjadinya force majeure atas ekspor gas mereka, pada Rabu (4/3). Negara yang berada di Timur Tengah ini merupakan produsen gas alam cair (LNG) terbesar di Teluk Persia. Beberapa fasilitas LNG milik QatarEnergy terkena serangan drone Iran sehingga produksi harus disetop sementara waktu. 

Qatar menyebut pemulihan volume produksi gas mereka ke kondisi normal mungkin membutuhkan waktu setidaknya satu bulan.

Pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur utama untuk hampir seperlima konsumsi energi global, telah terhenti hampir sepenuhnya untuk hari kelima selama perang  AS Israel melawan Iran dan balasan Tehran.

JP Morgan memperkirakan ada 329 kapal pengangkut minyak yang terjebak di Teluk Persia imbas penutupan selat tersebut. “Iran telah menahan diri dari menyerang sebagian besar infrastruktur energi kritis sambil tetap menjaga risiko pelayaran pada tingkat yang sangat tinggi,” kata JP Morgan 

Menurutnya, sebagian besar lapangan minyak dapat beroperasi kembali dalam hitungan hari. Namun untuk berproduksi dengan kapasitas penuh memerlukan waktu pemulihan dalam dua hingga tiga minggu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...