Harga Minyak Turun Setelah Trump Sebut AS akan Ambil Alih Selat Hormuz

Hari Widowati
10 Maret 2026, 05:47
harga minyak, Selat Hormuz
Vecteezy.com/Bjorn Franzen
Harga minyak turun setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz, titik krusial terpenting di dunia bagi pasar minyak mentah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak turun pada perdagangan setelah jam kerja, pada Senin (9/3), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz, titik krusial terpenting di dunia bagi pasar minyak mentah.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6,19% menjadi US$ 85,27 per barel pada pukul 3:37 sore ET. Minyak mentah Brent, acuan global, turun 4,6% menjadi US$ 88,43 per barel.

Trump mengatakan kepada CBS News dalam wawancara telepon bahwa kapal-kapal sedang melintasi Selat Hormuz. Dia mengatakan sedang “mempertimbangkan untuk mengambil alih” wilayah tersebut. Dia juga menyiratkan perang akan segera berakhir.

Trump juga mempertimbangkan untuk mengurangi sanksi minyak terhadap Rusia guna membantu meredakan harga minyak mentah, menurut tiga sumber yang familiar dengan masalah tersebut kepada Reuters.

Kontrak berjangka minyak mentah WTI ditutup naik 4,26% menjadi US$ 94,77. WTI melonjak hingga US$ 119,48 setelah negara-negara Arab Teluk memangkas produksi karena kapal-kapal tidak melintasi Selat Hormuz akibat ancaman dari Iran.

"Hanya beberapa kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz," kata Matt Smith, analis minyak di firma konsultasi energi Kpler, seperti dikutip CNBC.

Harga minyak mentah Brent global naik 6,76% dan ditutup di level US$ 98,96 per barel, setelah sempat mencapai level tertinggi US$ 119,50 pada awal sesi. Ini adalah kali pertama harga minyak melonjak di atas US$ 100 per barel sejak Rusia menyerang Ukraina pada 2022.

Menteri Energi G7 akan mengadakan pertemuan virtual pada Selasa (10/3) pagi untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama dari persediaan mereka, menurut sumber yang dikutip CNBC. Langkah pelepasan cadangan akan dilakukan setelah para menteri energi bertemu.

“Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk mendukung pasokan energi global seperti pelepasan cadangan,” kata para menteri dalam pernyataan Bersama, Senin (9/3). Anggota G7 adalah Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Gangguan Pasokan Terbesar

Analisis dari firma konsultasi Rapidan Energy menunjukkan penutupan Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Sekitar 20% dari konsumsi minyak dunia diekspor melalui Selat Hormuz.

"Harga minyak Brent dapat melonjak menjadi US$ 135 per barel jika situasi saat ini berlanjut selama empat bulan," kata Janiv Shah, Wakil Presiden Rystad Energy untuk Pasar Minyak, dalam catatan kepada klien, pada Senin (9/3). Ia memperkirakan harga Brent akan naik di atas US$ 110 jika kondisi saat ini berlanjut selama dua bulan.

Tak lama setelah harga minyak melonjak melampaui US$ 100 per barel pada pembukaan perdagangan Minggu (8/3) malam, Presiden Donald Trump mengunggah di Truth Social bahwa kenaikan “harga minyak jangka pendek” adalah “harga yang sangat kecil untuk dibayar” demi menghancurkan ancaman nuklir Iran.

“Hanya orang bodoh yang berpikir lain!” ujar Trump dalam unggahan tersebut.

Negara-negara Arab Teluk mengurangi produksi karena kehabisan ruang penyimpanan, sementara minyak mentah menumpuk tanpa tempat untuk disimpan akibat penutupan Selat Hormuz. Kapal tanker enggan melintasi perairan sempit tersebut karena khawatir Iran akan menyerang mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan kapal tanker harus sangat berhati-hati.

“Selama situasi tidak aman, saya pikir semua kapal tanker, semua navigasi maritim, harus sangat berhati-hati,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei dalam wawancara dengan CNBC.

Produsen Timur Tengah Memangkas Produksi

Kuwait, produsen terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pemangkasan produksi minyak dan output kilang secara preventif pada Sabtu (7/3) akibat “ancaman Iran terhadap keselamatan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz.” Perusahaan minyak negara Kuwait Petroleum Corp. tidak merinci besaran pemangkasan tersebut.

Produksi di Irak, produsen terbesar kedua di OPEC, telah efektif runtuh. Tga pejabat industri yang diwawancarai Reuters menyebut produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan Irak telah turun 70% menjadi 1,3 juta barel per hari. Ladang-ladang tersebut menghasilkan 4,3 juta barel per hari sebelum perang Iran.

Uni Emirat Arab, produsen terbesar ketiga di OPEC, mengatakan pihaknya “mengelola tingkat produksi lepas pantai dengan hati-hati untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan.” Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) mengatakan bahwa operasinya di darat terus berlanjut seperti biasa.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas di Selat Hormuz akan kembali normal setelah Amerika Serikat menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam kapal tanker.

“Kita tidak akan lama lagi sebelum Anda melihat pemulihan lalu lintas kapal yang lebih teratur melalui Selat Hormuz,” kata Wright kepada CNN dalam sebuah wawancara. “Saat ini, kita masih jauh dari lalu lintas normal. Itu akan memakan waktu. Namun, skenario terburuknya hanya beberapa minggu, bukan bulan.”

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...