Harga Minyak Dunia Turun Usai Trump Sebut Perang di Iran Segera Berakhir

Mela Syaharani
10 Maret 2026, 08:38
harga minyak. perang, iran, trump, as,
QatarEnergy
Salah satu fasilitas kilang LNG milik QatarEnergy.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia turun 6% setelah mencapai angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi perang di Timur Tengah dapat segera khawatir.

Harga minyak berjangka Brent turun US$ 6,51 per barel atau 6,6% menjadi US$ 92,45 pada pagi ini (Selasa 10/3). Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 6,12, atau 6,5%, menjadi US$ 88,65 per barel.

Harga minyak dunia sebelumnya melonjak menjadi US$ 119,50 untuk Brent dan US$ 119,48 untuk WTI pada Senin (9/3). Harga ini merupakan level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Lonjakan harga minyak terjadi seiring dengan pemangkasan pasokan minyak oleh Arab Saudi dan produsen lainnya selama perang yang melibatkan AS - Israel dengan Iran meluas. Harga kemudian turun setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Trump dan membagikan proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang dengan Iran.

Interaksi tersebut juga turut meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan. Dalam wawancara bersama CBS News, Trump yakin AS memimpin dalam perang melawan Iran.

Menanggapi pernyataan Trump, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan mereka akan menentukan kapan perang akan berakhir. “Iran memastikan tidak akan membiarkan satu liter minyak pun diekspor dari kawasan Teluk Persia jika serangan AS dan Israel terus berlanjut,” kata Juru Bicara IRGC, dikutip dari Reuters, Selasa (10/3).

Meski saling merespons, namun hal tersebut tidak dapat membuat harga minyak kembali melambung. Pasalnya, Trump saat ini juga tengah mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak Rusia dan melepaskan cadangan minyak mentah darurat. Menurut beberapa sumber, dua hal ini menjadi opsi yang bertujuan untuk menekan kenaikan harga minyak global yang melonjak di tengah konflik Iran.

“Mengingat peristiwa dalam 24 jam terakhir, saya memperkirakan harga minyak mentah akan tetap sangat fluktuatif, diperdagangkan dalam rentang yang luas antara US$ 75-105 dalam sesi mendatang,” kata Analis pasar IG, Tony Sycamore.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, produsen minyak di Teluk Persia telah mulai mengurangi produksi mereka karena perang antara AS dan Israel terhadap Iran mengganggu lalu lintas kapal di wilayah tersebut. 

Selama akhir pekan, Irak memangkas produksi di ladang minyak utamanya di selatan sebesar 70% menjadi 1,3 juta barel per hari, sementara Kuwait Petroleum Corporation juga mulai mengurangi produksi dan menyatakan force majeure. Arab Saudi kini juga mulai mengurangi produksi.

Di saat yang sama, negara-negara G7 mengatakan mereka siap menerapkan langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak global, namun belum berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...