Terobosan B20 agar UMKM Perempuan Berkelas Global Lewat Platform OGWE

Muchamad Nafi
10 Agustus 2022, 09:30
Terobosan B20 agar UMKM Perempuan Berkelas Global Lewat Platform OGWE
Katadata | Muchamad Nafi

Setelah One Global Women Empowerment (OGWE) diperkenalkan pada akhir Juli kemarin, Forum Business of 20 atau B20 bergerak cepat menyelesaikan rekomendasi dan sosialiasainya. Platform yang digodok oleh Gugus Tugas Women in Business Action Council ini bertujuan untuk mendorong UMKM yang digerakkan oleh perempuan naik kelas hingga tingkat global.

Ketua B20 Indonesia Shinta Kamdani mengatakan, OGWE menjadi gebrakan dalam Presidensi G20 Indonesia. Platform tersebut bakal menghubungkan UMKM dengan perusahaan-perusahaan besar. Ini merupakan langkah konkret dalam memberdayakan UMKM perempuan untuk memperoleh akses pendanaan dan pembinaan usaha.

Menurut Shinta dalam Media Briefing OGWE kemarin, pembiayaan bagi UMKM sangat penting dan tidak cukup hanya ditangani oleh perbankan. Karena itu, melalui OGWE akan ada program pendanaan atau fund khusus UMKM perempuan. “Kami tidak hanya ingin menciptakan UMKM, tapi juga membuat UMKM benar-benar bisa naik kelas.”

Saat ini memang sudah banyak program yang menyasar pemberdayaan UMKM, dari pemerintah, korporasi, hingga lembaga-lembaga non-profit. Namun, kata Shinta, tantangannya yaitu aneka program itu masih berjalan sendiri-sendiri. Lewat OGWE-lah diharapkan integrasi dan kolaborasi terbangun.

Untuk itu, B20 mengajak banyak perusahaan di dalam dan luar negeri untuk bergabung dalam OGWE. Ke depan, akan ada organisasi yang menjadi sekretariat permanen untuk mengelola OGWE sebagai legasi Presidensi G20. “OGWE terkoneksi dengan G20, sehingga bisa belajar dari UMKM di negara-negara lain, tidak hanya di Indonesia saja,” ujar dia.

Saat ini sudah ada 18 perusahaan dalam dan luar negeri yang bergabung dengan OGWE. Korporasi itu di antaranya Unilever, HM Sampoerna, dan Tokopedia. OGWE akan menjadi jembatan penghubung UMKM perempuan dalam Presidensi G20 dan B20. Sehinngga prograam ini berlanjut ke Presidensi G20 berikutnya setelah dari Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua B20 Women in Business Action Council (WiBAC) Ira Noviarti mengatakan telah mengadakan serangkaian pertemuan denga para perwakilan G20. Hasilnya, WiBAC mengajukan tiga langkah strategis yang memungkinkan negara G20, terutama Indonesia, bergerak menuju kesetaraan gender.

Ketiga hal tersebut yakni mempercepat pemberdayaan pengusaha dan pekerja perempuan, mendorong kemampuan kepemimpinan dan digital, serta menciptakan lingkungan kerja yang adil dan aman. Semuanya akan terwadahi dalam OGWE. “Langkah konkretnya dengan mempertemukan orang yang akan memberikan bantuan dan yang membutuhkan bantuan,” kata Ira.

Rumusan langkah tersebut merupakan B20 WiBAC Policy and Action Recommendation yang sudah final. Rincian penjelasannya, pertama, pemberdayaan pengusaha perempuan dengan cara mengembangkan ekosistem yang memberikan akses pada bantuan finansial, bantuan teknis bagi pelaku usaha, hingga regulasi.

Kedua, upaya mendorong kemampuan digital dan kepemimpinan perempuan dengan mempercepat akses perempuan pada lingkup digital serta meningkatkan kemampuan perempuan untuk mengambil posisi-posisi pimpinan. Hal ini akan diperkuat dengan laporan berbasis gender. 

Ketiga, lingkungan kerja yang adil dan aman hendak dimulai dengan meningkatkan keamanan kerja bagi perempuan di sektor informal. Dirumuskan juga kebijakan sistematis untuk menghindari kekerasan berbasis gender.

“Rekomendasi kebijakan dan aksi B20 WiBAC ini diharapkan menjadi panduan dalam menjembatani kesenjangan pada perempuan di dunia bisnis,” ujar Ira yang juga Presiden Direktur Unilever Indonesia. Untuk mencapai semua itu ada lima langkah yang sudah disiapkan WiBAC melalui OGWE.

  1. Knowledge sharing. Di sini para pelaku usaha bisa mengembangkan jaringan bisnis perempuan secara global untuk menstimulasi berbagi pengetahuan dan investasi lintas batas untuk bisnis yang dijalankan.
  2. Digital capability. Melaui kemampuan digital diharapkan dapat memberikan dan mendekatkan pelaku usaha perempuan kepada akses digital.
  3. Funding and investment. Di tahap ini hendak mengidentifikasi dan membentuk ekosistem yang dapat memberikan akses pendanaan. Selain itu melihat peluaang investasi bagi pengembangan bisnis-bisnis yang dipimpin perempuan.
  4. Technical support. OGWE akan memberi ruang para pelaku usaha untuk memperoleh aneka bantuan secara teknis kewirausahaan. 
  5. Supportive policy. Ini merupakan kebijakan, strategi, dan pendekatan sistematis OGWE untuk mendorong keterlibatan perempuan yang setara dalam dunia bisnis. 

“Untuk mencapai tujuan ini perlu kolaborasi erat seluruh elemen mulai, dari pemerintah, pelaku industri, LSM, investor, filantropi, dan seluruh masyarakat untuk menjembatani berbagai kesenjangan gender dalam perekonomian dunia,” ujar Ira.

Bila semua upaya tersebut berhasil, B20 WiBac pernah menghitung bahwa kesetaraan partisipasi gender dalam perekonomian global dapat meningkatkan US$ 28 triliun dalam pertumbuhan pendapatan domestik bruto global pada 2025.

Data WiBAC pada 2019 memperkirakan, apabila perempuan dan laki-laki berpartisipasi secara setara sebagai pengusaha, PDB global dapat bertumbuh 3 sampai 6 %, dan menambah US$ 2,55 triliun pada perekonomian global.

Di Indonesia, pengusaha UMKM menyumbang 60 % dari total ekonomi nasional dan 97 % dari sisi penciptaan dan penyerapan kesempatan kerja. Sebanyak 64 % dari total pengusaha UMKM adalah perempuan.

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...