Kemendag: Mandatori B50 Perkuat Posisi Tawar RI, Harga Minyak Goreng Tetap Aman

Andi M. Arief
15 Oktober 2025, 19:39
Kemendag
ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/tom.
Pekerja mengangkut tandan buah kelapa sawit di kawasan PT Perkebunan Nusantara IV, Deli Serdang, Sumatera Utara, Kamis (24/10/2024). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan ketersediaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih sangat mencukupi untuk bahan baku biodiesel 50 persen (B50) dengan tingkat produksi CPO di Indonesia pada tahun 2024 sekitar 46 juta ton, sedangkan yang dibutuhkan untuk pembuatan B50 hanya 5,3 juta ton.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Perdagangan (Kemendag) meyakini implementasi program mandatory B50 tidak akan memicu kenaikan harga minyak goreng seperti yang terjadi pada 2022. Hal ini karena peningkatan campuran minyak sawit mentah (CPO) sebesar 50% dalam solar akan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam menentukan harga CPO global.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan menjelaskan bahwa penentuan harga acuan CPO di dalam negeri masih bergantung pada harga global, khususnya yang terbentuk di Belanda dan Malaysia. Menurutnya, program B50 akan membuat Indonesia lebih berperan dalam menentukan harga karena mayoritas CPO global akan diserap di dalam negeri.

“Implementasi mandatory B50 akan membuat industri CPO lokal dapat mengatakan bahwa penentuan harga CPO global tidak akan bergantung pada harga minyak nabati lain di dunia. Ujung dari program B50 adalah posisi tawar Indonesia dalam pembentukan harga CPO di pasar ekspor,” kata Iqbal kepada Katadata.co.id, Rabu (15/10).

Proyeksi Konsumsi CPO

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, total konsumsi CPO pada 2024 mencapai 23,8 juta ton, sementara volume ekspor CPO 29,53 juta ton. Konsumsi CPO untuk industri biodiesel mencapai 11,44 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan industri pangan sebesar 10,2 juta ton.

Gapki memperkirakan, serapan CPO tahun ini akan meningkat menjadi 13,44 juta ton akibat program B40. Kementerian Pertanian memperkirakan program B50 akan menambah kebutuhan industri biodiesel sebanyak 5,3 juta ton, sehingga konsumsi CPO untuk biodiesel mencapai 18,44 juta ton pada 2026.

Dengan produksi CPO yang diproyeksikan tetap stagnan sekitar 48 juta ton, konsumsi domestik diperkirakan akan lebih tinggi dari volume ekspor, yaitu sekitar 30 juta ton.

Harga Minyak Goreng Diprediksi Stabil

Iqbal juga optimistis harga minyak goreng tidak akan kembali naik seperti 2022, berkat adanya Sistem Informasi Minyak Goreng Curah (Simirah) yang memantau pasokan CPO nasional. Ia mengingatkan semua pihak dapat mengawasi pasokan minyak goreng melalui sistem ini.

Pada awal 2022, harga minyak goreng kemasan sempat menyentuh Rp 25.700 per liter, sementara minyak goreng curah dilego Rp 16.400 per liter, akibat hilangnya pasokan di pasar.

Iqbal menjelaskan bahwa tingginya harga minyak goreng pada kuartal pertama 2022 disebabkan oleh hilangnya pasokan di pasar. “Dengan pola pengawasan minyak goreng saat ini, hal tersebut tidak akan terulang,” ujarnya.

Dampak B50 terhadap Harga CPO Global

Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, memperkirakan program B50 dapat mengembalikan posisi harga minyak goreng seperti 2022 karena akan mengurangi pasokan CPO di pasar ekspor, sehingga mendorong harga CPO global.

Menurut Eddy, CPO menyumbang sekitar sepertiga pasokan minyak nabati dunia, dan Indonesia memasok sekitar seperlima dari pasokan global. Namun, harga CPO domestik masih dipengaruhi harga global di Belanda dan Malaysia, sehingga kenaikan harga CPO global akan berdampak pada harga minyak goreng lokal.

“Kalau implementasi B50 dilakukan dengan kondisi produksi yang tidak berubah seperti saat ini, kemungkinan harga CPO dunia akan naik karena ekspor CPO dari Indonesia berkurang. Otomatis harga minyak goreng dan barang lain yang menggunakan CPO sebagai bahan baku ikut naik,” kata Eddy kepada Katadata, Jumat (10/10).

Eddy menekankan pentingnya peningkatan volume produksi CPO, salah satunya melalui intensifikasi dan peremajaan kebun sawit, agar pasokan tetap stabil dan harga tidak terkerek terlalu tinggi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...