Rantai Pasok Membaik, Kadin Sebut Produksi Industri Berpeluang Menguat
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai prospek sektor industri nasional pada semester II 2026 mulai menunjukkan perbaikan seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kondisi itu dinilai membantu mengurangi ketidakpastian global yang sebelumnya membebani aktivitas produksi dan perdagangan.
Erwin Aksa, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, mengatakan pelaku usaha kini memiliki pandangan yang lebih optimistis dibandingkan pada semester pertama tahun ini.
"Meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi sentimen positif karena membantu mengurangi ketidakpastian global, terutama terhadap harga energi, biaya logistik, dan kelancaran perdagangan internasional," ujar Erwin kepada Katadata.co.id, Jumat (10/7).
Meski demikian, ia mengingatkan pemulihan sektor industri masih perlu disikapi secara hati-hati. Risiko geopolitik serta perlambatan ekonomi global dinilai masih dapat memengaruhi kinerja industri ke depan.
Erwin mengatakan sektor-sektor yang berorientasi ekspor, industri hilirisasi mineral, makanan dan minuman, perkebunan, serta industri yang mendukung pembangunan infrastruktur diperkirakan memiliki prospek lebih baik pada semester II 2026.
Sementara itu, sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur masih menghadapi tantangan akibat lemahnya permintaan global dan tingginya persaingan dengan produk impor.
Optimisme dunia usaha juga harus ditopang oleh kebijakan domestik yang kondusif. Percepatan belanja pemerintah, kemudahan perizinan, kepastian regulasi, serta upaya menjaga daya beli masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar permintaan domestik tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan industri.
Tekanan Mulai Berkurang
Di sisi lain, Kadin melihat kondisi rantai pasok global mulai menunjukkan perbaikan setelah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah berangsur mereda. Tekanan terhadap biaya logistik, premi asuransi pelayaran, dan kekhawatiran atas pasokan energi mulai berkurang sehingga pelaku usaha memiliki kepastian yang lebih baik dalam menyusun rencana produksi maupun pengiriman barang.
"Meskipun demikian, proses normalisasi tidak terjadi secara instan. Beberapa industri masih melakukan penyesuaian terhadap kontrak pengadaan bahan baku, jadwal pengiriman, serta manajemen persediaan sebagai bentuk mitigasi apabila terjadi kembali gejolak geopolitik," kata Erwin.
Menurutnya, industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, terutama yang berasal dari kawasan Timur Tengah maupun melalui jalur pelayaran internasional, memang mulai merasakan penurunan tekanan biaya logistik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Namun, pelaku usaha tetap menerapkan langkah antisipatif mengingat dinamika global masih berpotensi berubah.
Ke depan, Erwin menilai momentum membaiknya situasi global perlu dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing industri nasional. Diversifikasi sumber bahan baku, penguatan rantai pasok domestik, peningkatan efisiensi logistik, serta perluasan pasar ekspor menjadi langkah yang perlu dipercepat agar industri nasional lebih tangguh menghadapi gejolak eksternal.
