Lemahnya Permintaan dan Tingginya Biaya Usaha Tahan Rekrutmen Sektor Manufaktur

Kamila Meilina
7 Agustus 2026, 17:14
manufaktur, industri, rekrutmen, tenaga kerja
ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/foc.
Peserta mengikuti sosialisasi dan edukasi proses produksi kosmetik di pabrik maklon Mash Moshem, Rejotangan, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (23/7/2026). Edukasi yang diikuti influencer dari berbagai daerah di wilayah Mataraman tersebut menjadi upaya memperkenalkan produk kosmetik lokal sekaligus memperkuat daya saing industri kosmetik nasional yang terus bertumbuh dan didominasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) buka suara soal perlambatan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur, di tengah ekspansi industri yang tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal II 2026. Meski berada di fase ekspansi, rekrutmen di sektor manufaktur melambat karena tekanan permintaan yang melemah dan biaya berusaha yang meningkat.

Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, data BPS pada triwulan II 2026 perlu dibaca secara menyeluruh. Di satu sisi, sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi. Hal itu tercermin dari Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) yang naik menjadi 52,31 pada triwulan II 2026 dari 51,37 pada triwulan sebelumnya.

Peningkatan itu ditopang oleh membaiknya komponen produksi yang mencapai 54,21, pesanan sebesar 53,78, dan stok di level 51,86. Namun, komponen tenaga kerja masih berada di bawah ambang ekspansi, yakni 49,92, yang menunjukkan perusahaan belum agresif menambah pekerja.

"Tetapi, (pelaku industri manufaktur) belum cukup yakin momentum tersebut akan berlangsung secara berkelanjutan untuk melakukan ekspansi tenaga kerja dalam skala yang lebih besar," ujar Shinta kepada Katadata.co.id, Jumat (7/8).

Menurut dia, kondisi tersebut juga tercermin dari pertumbuhan industri pengolahan pada Triwulan II 2026 yang mencapai 4,52% secara tahunan. Meski masih tumbuh positif, laju tersebut berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29%, sehingga menunjukkan pemulihan sektor manufaktur belum sepenuhnya kuat.

Penurunan Perekrutan Bukan Karena Otomatisasi Pabrik 

Perlambatan perekrutan tenaga kerja saat ini tidak dapat disederhanakan sebagai dampak otomatisasi, digitalisasi, maupun modernisasi teknologi. Transformasi industri memang merupakan tren jangka panjang yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing, namun keputusan perusahaan menahan perekrutan lebih dipengaruhi pertimbangan bisnis.

Shinta menjelaskan, dari sisi permintaan, dunia usaha masih menghadapi lemahnya daya beli domestik, perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian geopolitik yang menekan ekspor. Industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur masih menghadapi pelemahan permintaan dari pasar utama.

Sementara dari sisi pasokan, pelaku usaha masih dibebani tingginya biaya logistik, energi, bahan baku, serta berbagai persoalan regulasi dan perizinan yang meningkatkan biaya berusaha (cost of doing business).

"Dalam situasi seperti ini, perusahaan tentu akan lebih berhati-hati dalam menambah kapasitas produksi maupun melakukan perekrutan tenaga kerja baru. Kami melihat perlambatan perekrutan saat ini lebih mencerminkan sikap wait and see pelaku usaha terhadap prospek permintaan dan kondisi biaya usaha," ujarnya.

Meski demikian, APINDO melihat mulai muncul sinyal perbaikan pada awal triwulan III 2026. PMI Manufaktur S&P Global Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli dari 46,9 pada Juni dan kembali masuk zona ekspansi.

Kenaikan PMI menunjukkan output kembali tumbuh, pesanan baru mulai stabil, serta perusahaan mulai menambah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meski masih terbatas.

"Ketika permintaan mulai membaik, dunia usaha pada dasarnya tetap memiliki kecenderungan untuk kembali melakukan perekrutan. Namun peningkatannya masih bertahap karena penjualan ekspor masih lemah dan pelaku usaha masih berhati-hati terhadap keberlanjutan pemulihan," katanya.

APINDO pun mendorong pemerintah mempercepat deregulasi, memperbaiki iklim investasi, serta mengatasi persoalan struktural seperti logistik, pasokan bahan baku, dan perizinan untuk meningkatkan daya saing industri dan mendorong penciptaan lapangan kerja.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...