Trump Dikabarkan Buka Opsi Serangan untuk Picu Demonstrasi Iran Lebih Besar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan terhadap pasukan keamanan hingga pemimpin sejumlah lembaga di Iran. Opsi ini tengah dikaji untuk menginspirasi para demonstran di Negeri Mullah itu.
Dikutip dari Reuters, dua sumber di pemerintah AS yang mengetahui diskusi soal ini mengayakan, Trump untuk menciptakan kondisi untuk perubahan rezim. Ini setelah demonstrasi di Iran ditindak dengan keras dan menewaskan ribuan orang.
Trump mempertimbangkan opsi menyerang komandan dan lembaga yang dianggap AS bertanggung jawab atas kekerasan kepada demonstran. Tujuannya, untuk memberi penunjuk rasa kepercayaan diri bahwa mereka bisa menguasai gedung-gedung pemerintah.
Salah satu sumber juga mengatakan, opsi serangan dipertimbangkan untuk memberikan dampak kepada rudal balistik Iran yang bisa mencapai sekutu AS di Timur Tengah.
Empat pejabat negara Arab, tiga diplomat negara Barat, dan seorang sumber senior yang pemerintahnya diberi pengarahan tentang diskusi tersebut khawatir serangan AS bisa melemahkan gerakan demonstrasi yang ditindas pemerintah Iran.
Sedangkan Alex Vatanka, direktur Program Iran di Middle East Institute, mengatakan, protes di Iran akan kalah persenjataan tanpa pembelotan militer dalam skala besar.
Trump pada Rabu (28/1) mendesak Iran berunding untuk membuat kesepakatan soal senjata nuklir. Ia lalu mengancam menyerang Iran dengan serangan yang lebih besar ketimbang 2025 lalu.
"Semoga Iran segera 'Duduk di Meja Perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata — TANPA SENJATA NUKLIR — kesepakatan yang menguntungkan semua pihak," kata Trump dalam akun Trut Social, Rabu (28/1).
Seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa negaranya mempersiapkan diri untuk konfrontasi militer, namun tak menepikan upaya diplomatik. Sedangkan misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan siap berdialog, namun juga membuka pintu untuk melawan jika merasa diprovokasi.
Demonstrasi yang pecah di Iran sejak 28 Desember 2025 telah menewaskan lebih dari 5.000 orang. Aksi protes berskala nasional di Iran yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi domestik terus meningkat.
Tekanan ekonomi kian berat sejak September 2025 setelah PBB kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya. Kondisi tersebut mendorong nilai tukar rial Iran anjlok tajam. Awalnya demonstrasi cenderung berfokus pada isu ekonomi, tetapi dengan cepat berkembang menjadi aksi dengan slogan-slogan anti-pemerintah.

