Efek Domino Virus Corona ke Industri Penunjang Pariwisata

Hari Widowati
2 Maret 2020, 09:39
virus corona, dampak virus corona ke sektor pariwisata, sektor usaha yang terdampak virus corona, UMKM, hotel dan restoran, retail, stimulus pemerintah, pendapatan pariwisata anjlok
ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Dinas Pariwisata Bali menaksir sektor pariwisata kehilangan pendapatan sekitar Rp 10 miliar dalam waktu hampir sebulan akibat pembatalan kunjungan 20 ribu wisatawan Tiongkok ke Bali karena merebaknya wabah virus corona.

Dua bulan sudah virus corona (Covid-19) menebar ancaman di seluruh dunia. Industri pariwisata merupakan industri yang paling terdampak penyebaran virus ini. Reaksi berantai atau efek domino pun terjadi pada sektor-sektor penunjang pariwisata, seperti hotel dan restoran maupun pengusaha retail.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan, dampak penyebaran virus corona dirasakan oleh pengusaha hotel, restoran, dan maskapai penerbangan yang memiliki pangsa dan nilai investasi yang masif. Dinamika ini dikatakan sebagai force majeure atau kondisi yang tidak dapat dihindari.

Anjloknya okupansi hotel hingga angka 40% membawa dampak yang cukup besar bagi kelangsungan bisnis hotel. Pasalnya, hotel memiliki karyawan dan properti dalam jumlah besar. Beberapa hotel di Batam dan Bali meminta karyawannya untuk cuti di saat permintaan sepi.

"Dalam jangka pendek mereka lakukan itu. Kalau di atas bulan April masih sepi, apalagi ke depan kita masuk bulan puasa, ini bahaya,” ujar Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yusran Maulana kepada Katadata.co.id, Senin (24/2).

Melemahnya pariwisata juga diprediksi berdampak pada industri retail. Meski tidak terlalu berdampak pada ketersediaan stok, efek tersebut terasa sangat signifikan dari segi transaksi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, industri retail berpotensi kehilangan omzet sebesar US$ 48 juta atau sekitar Rp 652 miliar seiring menurunnya kunjungan turis dari Negeri Panda dalam dua bulan terakhir. Adapun daerah yang sektor retailnya paling terdampak adalah Manado, Bali, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Medan, dan Jakarta.

Sementara itu, hasil perhitungan Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) menunjukkan, sektor perdagangan Indonesia diprediksi akan mengalami sejumlah kontraksi. Lebih dari 495 jenis komoditas atau 13% komoditas dengan tujuan ekspor Tiongkok akan terimbas. Selain itu, sekitar 299 jenis barang impor dari Tiongkok diperkirakan menyusut atau bahkan menghilang dari pasar Indonesia.

“Sebagian besar produk yang merupakan barang konsumsi strategis akan memiliki implikasi serius terhadap inflasi dalam negeri,” ujar Peneliti P2E LIPI Panky Tri Febriansyah, dalam siaran pers.

(Baca: Isolasi Tiongkok dan Risiko Kehilangan Pembelanja Terbesar Wisata Dunia)

Gempuran terhadap UMKM

Penyebaran virus corona juga berdampak pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Efek dari penurunan okupansi hotel itu juga akan terkena ke sektor UMKM, karena setiap orang yang datang ke satu destinasi pasti menyentuh UMKM, entah cenderamata, oleh-oleh, atau bahan pokok,” ujar Maulana.

Berdasarkan data yang diolah P2E LIPI, dampak penurunan pariwisata terhadap UMKM yang bergerak di usaha makanan dan minuman (mamin) mikro mencapai 27%. Sedangkan, dampak terhadap usaha kecil mamin sebesar 1,77% dan usaha menengah di angka 0,07%.

Pengaruh virus corona terhadap unit usaha kerajinan dari kayu dan rotan, usaha mikro akan berada di angka 17,03%. Untuk usaha kecil di sektor kerajinan kayu dan rotan 1,77% dan usaha menengah 0,01%. Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga akan terkoreksi antara 0,5% hingga 0,8%.

Halaman:

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...