Isolasi Tiongkok & Risiko Kehilangan Pembelanja Terbesar Wisata Dunia

Penulis: Martha Ruth Thertina

7/2/2020, 07.00 WIB

UNWTO melansir, Tiongkok sebagai negara dengan pengeluaran pariwisata internasional terbesar yaitu US$ 277 miliar atau setara Rp 4.155 triliun pada 2018.

PENERBANGAN TERAKHIR SEMENTARA KE CHINA
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Sejumlah penumpang maskapai China Eastern tujuan Shanghai China menunggu untuk boarding di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (5/2/2020).

Perang melawan virus corona baru terus berlangsung. Berbagai negara memberlakukan langkah antisipasi, termasuk pelarangan penerbangan dari dan menuju Tiongkok secara keseluruhan. Indonesia dan Amerika Serikat termasuk dalam daftar negara yang memilih kebijakan pelarangan. Sedangkan New Zealand melarang turis Tiongkok masuk negara tersebut.

Kebijakan ini diambil seiring terus bertambahnya jumlah orang yang teridentifikasi terjangkit virus corona baru. Saat berita ini ditulis, lebih dari 25 ribu orang – mayoritas di Tiongkok – teridentisikasi terjangkit, dan lebih dari 500 orang dinyatakan meninggal akibat virus tersebut. Bahkan, banyak pihak menduga jumlah korban meninggal lebih dari itu.

Pemerintah Tiongkok sendiri juga melakukan pengetatan prosedur, bukan hanya untuk penerbangan internasional, tapi domestik, guna menahan penyebaran virus tersebut. Virus corona baru telah ditemukan di 29 provinsi di Tiongkok, termasuk di ibu kotanya yaitu Beijing dan kota turis seperti Shanghai. Sedangkan temuan kasus terbanyak masih di Provinsi Hubei (Wuhan), tempat di mana virus tersebut pertama kali ditemukan.

(Baca: WHO Siapkan Respons Penanganan Virus Corona Senilai Rp 9,22 Triliun)

Penutupan penerbangan dari dan menuju Tiongkok bisa jadi menandai dimulainya tantangan berat bagi sektor pariwisata dunia -- sektor yang telah 10 tahun berturut-turut tumbuh positif, bahkan melebihi pertumbuhan ekonomi global. Bagaimana tidak? Berdasarkan data World Tourism Organization (UNWTO), Tiongkok merupakan ‘eksportir’ turis terbesar dunia.  

Berdasarkan laporan UNWTO yang dilansir pertengahan tahun lalu, sebanyak 10% dari total 1,4 miliar penduduk Tiongkok melakukan perjalanan internasional. Ini artinya sekitar 140 juta orang atau lebih dari separuh penduduk Indonesia. Dengan jumlah yang masif tersebut, Tiongkok tercatat sebagai pembelanja terbesar dalam pariwisata internasional.

Pengeluaran Tiongkok untuk pariwisata internasional tercatat US$ 277 miliar pada 2018, seperlima dari total pengeluaran dunia untuk pariwisata internasional. Bila diperhitungkan dengan rata-rata kurs rupiah 2018 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS, maka jumlah tersebut setara Rp 4.155 triliun, dua kali lipat belanja pemerintah Indonesia di tahun yang sama.  

Pengeluaran Tiongkok tersebut telah melampaui AS. Pengeluaran dari Negeri Paman Sam tercatat US$ 144 miliar atau sekitar Rp 2.160 triliun, setengah dari pengeluaran Tiongkok.

Berikut daftar 10 negara dengan pengeluaran terbesar untuk pariwisata internasional pada 2018:

Negara

Pengeluaran

Pertumbuhan (%)

Tiongkok

US$ 277 miliar

5%

Amerika Serikat

US$ 144 miliar

7%

Jerman

US$ 94 miliar

1%

Inggris

US$ 76 miliar

3%

Perancis

US$ 48 miliar

11%

Australia

US$ 37 miliar

10%

Rusia

US$ 35 miliar

11%

Kanada

US$ 33 miliar

4%

Korea Selatan

US$ 32 miliar

1%

Italia

US$ 30 miliar

4%

Sumber: UNWTO (Diolah)

Indonesia sendiri tercatat sebagai salah satu negara yang memperoleh keuntungan dari turis Tiongkok. Data Badan Pusat Statistik (BPS), kunjungan dari turis Tiongkok berkontribusi 12,86% terhadap total 16,11 juta kunjungan turis asing ke Indonesia pada 2019. Kunjungan turis Tiongkok ke Indonesia merupakan yang terbanyak kedua setelah kunjungan turis Malaysia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan Indonesia berpotensi kehilangan devisa US$ 4 miliar atau setara Rp 54,8 triliun bila rute penerbangan dari dan menuju Tiongkok ditutup selama setahun. Nilai tersebut berasal dari jumlah turis asal Tiongkok yang mencapai 2 juta orang dalam setahun, dengan rata-rata pengeluaran US$ 1.400 per kunjungan.

Potensi kerugian bisa lebih besar lantaran adanya risiko turis asing lainnya menunda perjalanan lantaran wabah virus corona juga memunculkan kekhawatiran untuk melancong. “Jadi memang ini sebuah tantangan yang cukup berat buat pariwisata,” kata Wishnutama. Sejauh ini, kasus orang terinfeksi virus ini telah ditemukan di 27 negara/regional, selain Tiongkok.

(Baca: Pariwisata Sepi akibat Virus Corona, Maskapai Bakal Beri Diskon Tiket)

Sektor Pariwisata Mulai Tertekan

Sejumlah kota di dunia mulai merasakan dampak dari pembatasan ataupun penutupan penerbangan dari dan menuju Tiongkok. Penurunan bisnis drastis terjadi di lokasi-lokasi yang dikenal sebagai tempat berkumpul atau yang banyak dikunjungi orang Tiongkok alias Chinatown, dan destinasi-destinasi wisata terkenal, termasuk Bali.  

Pada Selasa, 4 Februari lalu, New York Times memberitakan Manager hotel dekat Newark Liberty Internasional Airport yang bergantung pada turis Tiongkok mengestimasi kerugian imbas virus corona “Berkisar US$ 100 ribu dan terus menanjak.” Perusahaan yang merancangkan tur bis berbahasa Tiongkok di Manhattan menghadapi sebanyak-banyaknya 300 pembatalan dari turis Tiongkok yang tidak bisa datang ke New York, pekan ini.

Pemilik restoran dan toko di Chinatown New York – di Lower Manhattan, Flushing, Queens, dan Sunset Park, Brooklyn – juga mengatakan virus corona dan ketakutan tentang hal itu telah memukul bisnis. Pekerja dan pemilik restoran di Chinatown Manhattan menyatakan bisnis telah anjlok 50-70% dalam 10 hari belakangan.  

Di Chinatown London, operator restoran juga merasakan penurunan drastis bisnis sejak dua orang di timur laut Inggris dinyatakan positif terinfeksi virus corona, pekan lalu. “Dibandingkan dengan beberapa bulan belakangan, kami kehilangan sekitar 50% dari pelanggan kami. Alasannya adalah virus,” kata Martin Ma, General Manager Jinli, restoran yang buka di dua lokasi di Chinatown London.

Sedangkan di Bali, pembatalan kunjungan dari turis Tiongkok sudah mulai dirasakan sejak Januari lalu, sebelum pemerintah secara resmi melarang penerbangan dari dan menuju Tiongkok mulai 5 Februari. Seperti dikutip Antaranews akhir Januari lalu, Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Ketut Ardana mengatakan pembatalan dilakukan oleh turis dari beberapa daerah di Tiongkok.

Adapun Bali Kintamani Festival yang sejatinya digelar pada 8 Februari 2020 dibatalkan. Sebelumnya, Pemerintah Bali telah menggandeng Asita untuk mendatangkan turis asal Tiongkok guna menonton parade tersebut. Kepala Dinas Pariwisata Bali I Putu Astawa mengatakan penundaan hingga waktu yang belum ditentukan. 

 

Selanjutnya:  

Kontribusi Pariwisata Internasional Terhadap Ekonomi Global Membesar  

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia dan RI di Tengah Wabah

 

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha