Memahami Infodemi Agar Tak Terjebak Hoaks Covid-19

Hanna Farah Vania
Oleh Hanna Farah Vania - Tim Riset dan Publikasi
13 Februari 2021, 14:00
Konten virus corona yang distempel hoaks oleh Kominfo beredar pada Mei 2019.
Kominfo

Di saat masih harus berperang melawan pandemi, Indonesia juga masih mengalami persoalan disinformasi yang disebut dengan infodemi. Menurut World Health Organization (WHO), infodemi adalah informasi berlebihan mengenai Covid-19 secara daring atau luring. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan saat ini sudah terdapat 108 berita bohong yang beredar mengenai vaksin.

WHO menyebutkan informasi ini mencakup upaya yang disengaja untuk menyebarkan informasi yang salah untuk merusak respon kesehatan masyarakat dan mendorong agenda alternatif suatu kelompok atau individu. Dampak yang ditimbulkan adalah membahayakan kesehatan fisik dan mental, meningkatkan stigma terhadap Covid-19 dan penyintasnya, hingga berdampak pada kepatuhan masyarakat akan sistem kesehatan.

WHO menilai ini membahayakan karena mengurangi efektivitas dan membahayakan kemampuan negara untuk menghentikan pandemi. Virus Corona merupakan pandemi yang berada pada era penggunaan yang masif akan teknologi dan media sosial, yang menjadi tempat rujukan mencari informasi dan tetap terkoneksi satu sama lain. Namun, penyebaran informasi yang begitu cepat dan tidak terkendali justru dapat memperlambat penanganan Covid-19.

Dalam survei Katadata Insight Center (KIC) tentang Opini Publik & Komunikasi Penanganan Pandemi Covid-19 yang dilaksanakan pada 30 Juli – 18 Agustus 2020, yang dilakukan terhadap 1.847 responden di seluruh wilayah Indonesia ini menunjukkan sebanyak 69,4 persen hoaks tentang Covid-19 menyebar di platform media sosial Facebook dan 51,4 persen melalui Whatsapp. Presentase hoaks terbesar ketiga sebanyak 38 persen menyebar di platform Instagram.

Menurut Asisten Profesor Ilmu Sains dan Teknologi Universitas Northwestern Anto Mohsin dalam tulisannya yang dipublikasikan oleh The Conversation, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi penyebaran berita bohong. Pertama, bias konfirmasi dan ruang gema. Mudahnya mengakses informasi dapat membuat orang membaca dan menyebar informasi tanpa mengecek kembali informasi tersebut.

Hal ini membuat orang kewalahan mengolah informasi. Sehingga muncul sebuah fenomena pembaca cenderung memilah informasi yang sesuai dengan pemikirannya, yang disebut bias konfirmasi. Hal ini diperburuk dengan minimnya pemahaman mengenai sains, khususnya penyakit menular.

Halaman:

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...