Pemprov Soroti Rendahnya Minat Vaksinasi Booster di Jakarta

Ameidyo Daud Nasution
11 Maret 2022, 20:36
booster, jakarta, vaksin
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada peserta Vaksinasi Gotong Royong Booster di klinik Kimia Farma, Radio Dalam, Jakarta, Rabu (23/2/2022).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan saat ini terjadi penurunan minat masyarakat ibu kota untuk mendapatkan vaksinasi dosis ketiga atau booster. Hal ini terlihat dari rendahnya capaian vaksinasi tambahan yang saat ini baru mencapai 1,6 juta orang usai dua bulan program ini dimulai.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti mengatakan alasan utama rendahnya minat warga karena masih banyak yang memilih vaksin. “Ketika yang diinginkan tidak tersedia, mereka tidak berminat vaksinasi,” katanya di Jakarta, Jumat (11/3) dikutip dari Antara.

Widyastuti mengatakan semua jenis vaksin yang tersedia telah mendapatkan rekomendasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Oleh sebab itu ia meminta masyarakat tidak ragu datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan booster.

Dia juga memastikan stok vaksin di Jakarta saat ini dalam kondisi aman. Beberapa merek yang disiapkan adalah AstraZeneca, Pfizer, dan Sinovac. “Sinovac kami prioritaskan untuk vaksinasi primer, untuk booster tersedia AstraZeneca dan Pfizer,” katanya.

Dari data Kementerian Kesehatan, hingga Jumat (11/3), angka vaksinasi booster di Indonesia baru mencapai 14,2 juta dosis atau 6,8% dari sasaran. Dari angka tersebut, 9,7 juta diberikan kepada masyarakat umum, 1,2 juta kepada petugas publik, 1,7 juta kepada lanjut usia, 1,4 juta disuntikkan kepada tenaga kesehatan dan sisanya kepada anak-anak.

Sedangkan total vaksinasi dosis kedua secara nasional saat ini mencapai 150,4 juta dosis atau 72,2% dari sasaran. Adapun angka vaksinasi dosis pertama mencapai 193,1 juta atau 92,7% dari target 208,2 juta penduduk.

Meski minat masyarakat belum tinggi, Pemerintah berencana mengkaji kemungkinan vaksin corona dosis keempat. Namun hal tersebut akan dilakukan jika ada bukti ilmiah yang memadai.

"Masih dibahas dulu sama para ahli," kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi kepada Katadata.co.id, Rabu (23/2).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...