Prabowo Siap Berunding dengan AS Usai RI Kena Tarif Impor 32%

Muhamad Fajar Riyandanu
7 April 2025, 14:00
Prabowo
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.
Presiden Prabowo Subianto (kanan) memberikan pengantar saat memimpin sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (21/3/2025). Sidang kabinet paripurna tersebut membahas persiapan jelang hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Prabowo Subianto berniat untuk melakukan perundingan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kenaikan tarif impor kepada Indonesia hingga 32%. Dia menyebut kebijakan tarif AS sebagai bagian tantangan global akibat perang dagang dan ketegangan antarnegara besar.

"Kita juga kena, tapi kita tenang. Kita punya kekuatan, kita juga nanti akan berunding. Kita akan berunding dengan semua negara. Kita akan juga buka perundingan dengan Amerika," kata Prabowo saat memberikan arahan Panen Raya Padi Serentak di 14 Provinsi di Majalengka, Jawa Barat pada Senin (7/4).

Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak akan mengambil langkah reaktif dalam menyikapi strategi ekonomi yang diumumkan Trump pada 2 April lalu. Dia tetap percaya bahwa Indonesia dapat menghadapi tekanan ekonomi eksternal.

Menurutnya, pemerintah AS punya hak untuk memperjuangkan kepentingan negaranya. Oleh karena itu, Indonesia akan menempuh jalur diplomasi demi mewujudkan hubungan bilateral yang adil dan setara.

Prabowo menyoroti kebijakan resiprokal, yaitu timbal balik dalam perdagangan ketika suatu negara menerapkan perlakuan setara seperti tarif impor sebagai respons terhadap kebijakan dagang negara mitra demi menjaga keadilan dan keseimbangan hubungan bilateral.

"Resiprokal. Jadi apa yang mereka minta, kalau masuk akal, wajib juga kita hormati," ujar Prabowo.

Prabowo meminta masyarakat agar tidak perlu khawatir dalam menghadapi tantangan global tersebut. Dia menegaskan bahwa Indonesia mempunyai kekuatan yang setara dan sejajar dalam kancah internasional.

"Tidak perlu ada rasa kecewa, tidak perlu ada rasa khawatir. Kita percaya dengan kekuatan kita sendiri. Kalaupun ada tantangan, ya kita hadapi dengan gagah," kata Prabowo.

Menempuh Jalur Diplomasi

Sikap serupa juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Ia menyatakan pemerintah tidak akan mengambil langkah retaliasi terhadap kebijakan tarif resiprokal AS yang mulai berlaku pada 9 April 2025.

Airlangga menekankan bahwa Indonesia memilih untuk menempuh jalur diplomasi dan negosiasi sebagai upaya mencari solusi yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Pendekatan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang hubungan perdagangan bilateral, serta untuk menjaga iklim investasi dan stabilitas ekonomi nasional.

Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah terus menjalin komunikasi dengan United States Trade Representative (USTR) hingga Kamar Dagang AS alias U.S. Chamber of Commerce. Langkah itu dilakukan dalam rangka merumuskan langkah-langkah strategis dalam merespons kebijakan tarif tersebut. 

“Kita dikenakan waktu yang sangat singkat, yaitu 9 April, diminta untuk merespons. Indonesia menyiapkan rencana aksi dengan memperhatikan beberapa hal, termasuk impor dan investasi dari Amerika Serikat,” kata Airlangga dalam keterangan tertulis pada Ahad (6/4).

Beberapa negara Asia Tenggara juga dikenakan tarif impor yang tinggi. Thailand dan Kamboja masing-masing dikenakan tarif impor 36% dan 49%. Sementara Malaysia dan Singapura hanya dikenakan tarif masing-masing 24% dan 10%.

Trump menyatakan bahwa tarif tinggi diberlakukan kepada negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. Ia juga menerapkan pajak dasar sebesar 10% atas seluruh impor sebagai bagian dari kebijakan yang disebut sebagai tarif timbal balik.

Selain itu, dia juga menekankan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk memperkuat sektor manufaktur AS. "Kami akan mengenakan tarif sekitar separuh dari nilai yang mereka kenakan ke negara kita," ujar Trump, dikutip dari CNBC.

Sebelumnya, pemerintah AS telah menghitung persentase tarif impor terhadap barang-barang AS yang masuk ke negara mitra dagangnya. Dalam hal ini, Trump memasukkan komponen tarif dasar, hambatan dagang, serta dugaan 'kecurangan' lain seperti manipulasi mata uang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...