Airlangga Sebut Pemerintah dan Danantara Godok Teknis Penyelesaian Utang Whoosh
Pemerintah kini tengan mencari skema penyelesaian utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) yang memicu polemik belakangan ini. Pembahasan terkait masih berjalan secara teknis antara kementerian bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, Danantara kini menjadi salah satu opsi untuk merombak struktur pembiayaan Whoosh.
"Kami sedang membahas. Nanti tentu akan dibicarakan secara teknis antar kementerian, juga solusinya dengan Danantara," kata Airlangga di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (5/11).
Airlangga enggan bicara banyak mengenai utang Whoosh yang akan ditalangi oleh pemerintah nantinya. "Ini korporasi, jadi korporasi banyak struktur yang bisa dilakukan," ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya merespons polemik soal Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh. Prabowo mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab atas penyelesaian Whoosh yang menjadi sorotan belakangan ini.
"Tidak usah khawatir, apa itu ribut-ribut Whoosh. Saya sudah pelajari masalahnya. Tidak ada masalah, saya tanggung jawab nanti Whoosh itu semuanya," ujar Prabowo saat peresmian Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta Pusat, Selasa (4/11) seperti disiarkan dalam Youtube Sekretariat Presiden.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Roeslani menargetkan dapat menerbitkan tiga skema penyelesaian utang proyek Whoosh pada akhir tahun ini. Skema ini digodok bersama perwakilan Cina, yaitu National Development and Reform Commision.
"Setelah pengkajian skema penyelesaian utang Whoosh selesai, kami akan paparkan hasilnya ke semua kementerian terkait, seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, dan Dewan Ekonomi Nasional," kata Rosan di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Jumat (17/10).
Rosan tidak mau skema penyelesaian utang Whoosh berpotensi menimbulkan masalah baru karena dampaknya akan terasa ke kinerja keuangan PT Kereta Api Indonesia. Sedangkan, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan permasalahan keuangan yang ditimbulkan Kereta Cepat menjadi “bom waktu” perusahaan.
KAI diperkirakan harus menanggung kerugian Whoosh hampir 4 triliun sejak pada 2022-2024. Nilai tanggungan terhadap kerugian Whoosh paling besar terjadi pada tahun lalu atau hingga Rp 2,24 triliun. Kerugian Whoosh yang ditanggung KAI pada tahun ini diproyeksikan mencapai Rp 1,2 triliun.
