Trump Sebut Akan Ada Negara yang Bantu AS Amankan Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald J Trump kembali meminta bantuan negara lain untuk mengamankan Selat Hormuz kemarin, Senin (16/3). Namun, sebagian negara sahabat Negeri Paman Sam belum merespons bahkan menyampaikan penolakan terhadap permintaan tersebut.
Dilansir dari Bloomberg, Trump dilaporkan menyampaikan sejumlah pernyataan dalam konferensi pers di Gedung Putih dengan nada frustrasi terkait tidak adanya komitmen publik dalam memastikan keamanan kapal yang melewati Selat Hormuz.
"Banyak negara yang bilang ke saya mereka sedang di jalan menuju Selat Hormuz. Sebagian mengaku antusias dan sebagian lagi tidak antusias. Sebagian negara yang datang telah kami bantu bertahun-tahun," kata Trump seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (17/3).
Trump juga mengumumkan penundaan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping sekitar satu bulan untuk mengawasi jalannya perang. Seperti diketahui, Trump dijadwalkan bertemu dengan Xi secepatnya pada akhir bulan ini.
Trump juga belum dapat memastikan apakah perang dengan Iran dapat rampung pada pekan keempat. Dia mengatakan, hingga saat ini, AS telah menghancurkan lebih dari 7.000 target di Iran.
Target tersebut termasuk 30 kapal penebar ranjau laut dan sistem pertahanan udara. Selain itu, Trump mengatakan pihaknya telah melumpuhkan sistem pertahanan udara, radar, dan pimpinan di Iran.
Terakhir, Trump mengancam pihaknya dapat melanjutkan serangan terhadap Pulau Kharg di Teluk Persia dan secara khusus menargetkan fasilitas produksi minyak Iran. Seperti diketahui, Pulau Kharg berkontribusi hampir 90 persen dari volume minyak mentah yang diekspor Iran.
Beberapa negara sahabat Amerika Serikat yang telah menolak permintaan bantuan dari Trump di Timur Tengah adalah Prancis, Inggris, Jepang, dan China. Hanya Negeri Panda yang belum memberikan respons resmi hingga saat ini, sementara ketiga negara lainnya menyampaikan penolakan.
"NATO merupakan aliansi untuk mempertahankan wilayah. Tidak ada mandat yang cukup ke Timur Tengah," kata Juru Bicara Kanselir Jerman Stefan Cornelius seperti dilansir dalam Middle East Eye, Selasa (17/3). Senada, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan tidak akan ada partisipasi militer dari Jerman terhadap konflik di Timur Tengah.
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan sedang mencari solusi yang memungkinkan bersama sekutu untuk membuka akses Selat Hormuz. Starmer mengatakan NATO tidak akan berpartisipasi dalam perang dengan Iran, namun sekutu yang dimaksud merupakan negara dari Eropa.
"Kami sedang mengumpulkan rencana kolektif yang mungkin dilaksanakan untuk mengembalikan keleluasaan navigasi di kawasan secepat mungkin dan meringankan dampak ekonomi," kata Starmer.
Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles mengatakan pihaknya tidak akan mempertimbangkan kontribusi militer ke Timur Tengah. Hal yang sama disampaikan oleh pemerintah Polandia terkait permintaan bantuan militer angkatan laut oleh Amerika Serikat.

