Riset: 63 % Karyawan Tak Punya Cukup Tabungan jika Di-PHK

Rerata pekerja di Indonesia baru merencanakan keuangan setelah menikah.
Image title
30 Oktober 2019, 18:11
Studi GoBear terkait Financial Health Index menunjukkan, 63% karyawan di Indonesia tidak memiliki tabungan yang cukup jika mengalami PHK
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, aktifitas pekerja Pabrik Sepatu dilokasi pabrik PT Adis Dimension Footwear di Balaraja Barat, Tangerang, Provinsi Banten, Senin (5/10). Studi GoBear terkait Financial Health Index menunjukkan, 63% karyawan di Indonesia tidak memiliki tabungan yang cukup jika mengalami PHK.

Studi GoBear terkait Financial Health Index menunjukkan, 63 % karyawan di Indonesia tidak memiliki tabungan yang cukup jika mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Penyebabnya, mayoritas penduduk tidak merencanakan keuangan sedini mungkin.

Country Director GoBear Indonesia Tris Rasika menjelaskan, Indonesia memeroleh skor 7,5 dari rentang nilai 1-10 terkait karyawan yang merasa aman terkait keuangan. Namun, hanya 37 % di antara mereka yang memiliki tabungan cukup untuk enam bulan jika kehilangan sumber pendapatan utama atau PHK.

"Mayoritas karyawan di Indonesia baru melakukan perencanaan keuangan setelah menikah untuk pendidikan anak," kata dia di Jakarta, Rabu (30/10). Meski begitu, indeks terkait rasa aman keuangan di Indonesia lebih tinggi ketimbang Singapura (6.4), Thailand (6.7), dan Hong Kong (6.5).

Berdasarkan riset tersebut, penduduk Indonesia belum memulai perencanaan keuangan meski berusia 35 tahun. Bahkan, saat memasuki usia 41 tahun, masyarakat Indonesia baru mempersiapkan pensiun. Rerata pekerja di Indonesia baru memikirkan perencanaan keuangan setelah menikah.

(Baca: Laba Anjlok, HSBC Bakal Restrukturisasi Bisnis dan PHK Besar-besaran)

Riset ini dilakukan dengan wawancara kuantitatif secara online terhadap karyawan di empat negara yakni Indonesia, Hong Kong, Singapura dan Thailand. Hanya, GoBear tidak menyebutkan jumlah responden di masing-masing negara. Responden berusia 18-65 tahun.

Sejalan dengan riset itu, GoBear meluncurkan Financial Health Index sebagai inisiatif pendidikan tentang kesehatan keuangan. Melalui inisiatif ini, startup agregator teknologi finansial (fintech) ini mengidentifikasi pola, sikap dan perilaku keuangan masyarakat Indonesia.

Saat ini, GoBear memiliki 40 juta pengguna di Asia. Namun, di Indonesia jumlahnya relative kecil, karena startup ini baru masuk pada Maret lalu. “Target kami menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan seperti bank dan asuransi. Tahun ini kami sudah bekerja sama dengan enam bank dan menargetkan sembilan hingga 10," kata dia.

(Baca: GoBear Ramaikan Pasar Agregator Fintech di Indonesia )

Melalui platform GoBear, masyarakat yang awam dapat membandingkan dan memilih produk dan jasa keuangan yang sesuai dengan kebutuhannya. GoBear Indonesia memiliki empat layanan produk keuangan di platformnya, yakni kredit tanpa agunan (KTA), kartu kredit, asuransi perjalanan, dan asuransi mobil.

Melalui situs gobear.com/id, pengguna dapat membandingkan berbagai produk keuangan yang ditawarkan sesuai dengan profil keuangan mereka. Seluruh layanan yang terlampir di situsnya tidak dikenakan biaya alias gratis.

Meskipun merupakan pemain baru di Indonesia, GoBear telah beroperasi selama empat tahun. Perusahaan yang didirikan pada 2015 ini, telah memiliki 29 juta pengguna dan beroperasi di tujuh negara di Asia. Negara-negara tersebut antara lain; Singapura, Indonesia, Hong Kong, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

(Baca: Gelombang PHK Perbankan Global dari Deutsche Bank hingga HSBC)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Video Pilihan

Artikel Terkait