Laba Bukalapak Tumbuh 60% Sejak Tinggalkan Strategi ‘Bakar Uang’

Laba atau EBITDA Bukalapak tumbuh 60% sejak 2018. Unicorn ini pun tak lagi berfokus pada strategi 'bakar uang' maupun tingkat kunjungan ke platform.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
11 September 2020, 18:15
Pendapatan Tumbuh 60%, Bukalapak Tinggalkan ‘Bakar Uang’
ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Ilustrasi, karyawan menunjukkan fitur pembelian tiket Kereta Api (KA) Bandara pada aplikasi Bukalapak dengan menggunakan gawai saat perjalanan dari Stasiun BNI City menuju ke Stasiun Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Startup e-commerce Bukalapak mencatatkan pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 60% pada kuartal II tahun ini dibandingkan akhir 2018. Salah satu unicorn Tanah Air ini mengaku tak lagi mengandalkan strategi promosi atau 'bakar uang' untuk mendorong transaksi.

Presiden Bukalapak Teddy Oetomo menilai, startup yang baru membuka layanan yang lebih membutuhkan strategi promosi. Diskon besar-besaran atau dikenal dengan istilah ‘bakar uang’ untuk menggaet pengguna, bukanlah solusi bisnis.

Oleh karena itu, perusahaan berfokus pada pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. “Kami cari solusi dan inovasi yang diperlukan masyarakat," kata Teddy saat konferensi pers virtual, Jumat (11/9).

Namun strategi promosi tetap dibutuhkan oleh startup. “Itu tidak salah, tapi kalau kebablasan, itu masalah. Kalau bisnis terus saja promosi, tidak akan berhasil," ujarnya.

Ia mengatakan, bisnis perusahaan tetap tumbuh meski tak lagi gencar berpromosi. "Kami mengurangi bakar uang masif, dan pangsa pasar relatif stabil," ujar dia.

Perusahaan juga tidak ‘ngoyo’ mengejar tingkat kunjungan ke platform. Bukalapak justru berfokus memaksimalkan inovasi produk yang menyasar sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), khususnya warung. 

Berdasarkan situs iPrice, kunjungan ke situs Bukalapak turun dari 37,6 juta per bulan pada kuartal I menjadi 35,2 juta kuartal II. E-commerce ini pun menempati urutan ketiga di bawah Shopee dan Tokopedia.

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin membenarkan bahwa perusahaan tak lagi berfokus mengejar tingkat kunjungan dalam dua tahun terakhir. “Kami tidak bisa selalu berfokus pada pertumbuhan saja, sementara solusinya tidak menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan," ujarnya.

Apalagi, Bukalapak berencana mencatatkan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa saham. "Wajar jika startup ingin IPO. Ini sejalan dengan cita-cita kami untuk tumbuh berkelanjutan," katanya.

Dengan IPO, perusahaan juga bisa mendapatkan akses pasar potensial.

Oleh karena itu, Bukalapak bakal berfokus pada segmen warung dalam lima tahun ke depan. Segmen ini dinilai potensial, karena berkontribusi 65-70% terhadap transaksi retail nasional berdasarkan riset CLSA.

Berdasarkan riset Euromonitor International, mayoritas masyarakat Indonesia, India, dan Filipina pun berbelanja di toko kelontong. Transaksinya mencapai US$ 479,3 miliar atau 92% dari total nilai pasar retail US$ 521 miliar pada tahun lalu, sebagaimana Databoks di bawah ini:

Hingga kini perusahaan telah menggaet dua juta mitra warung dan tiga juta agen yang disebut Mitra Bukalapak.

Perusahaan juga memperluas jangkauan layanan dengan membuka Bukamart di 90 kota Indonesia. Ini merupakan respons dari tingginya permintaan kebutuhan pokok selama pandemi corona, yang tecermin pada Databoks di bawah ini:

 

Selain kebutuhan pokok, perusahaan mencatat transaksi produk virtual tumbuh 60% dibandingkan sebelum ada pandemi Covid-19. Produk yang dimaksud seperti pulsa, paket data, voucer streaming musik, film maupun belajar atau kursus online, dan pembayaran tagihan.

Bukalapak juga meluncurkan layanan Business to Business (B2B), BukaPengadaan pada 2017, untuk mendorong pendapatan. Jumlah pembeli dan penjual di platform khusus ini pun tumbuh 48% dan 32% selama Januari-Agustus.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait