Transaksi Naik saat Pandemi, Fintech Cashlez Isyaratkan Investasi Baru

Fintech Cashlez mencatat, transaksi dan volume penjualan melonjak saat pandemi corona. Perusahaan menyatakan, ada investor asing yang tertarik untuk masuk.
Desy Setyowati
9 Oktober 2020, 12:34
Transaksi Naik saat Pandemi, Fintech Cashlez Isyaratkan Investasi Baru
cashlez
Ilustrasi pembayaran dengan e-money melalui mesin milik Cashlez

Perusahaan teknologi finansial (fintech) pembayaran, Cashlez mencatatkan pertumbuhan transaksi 50% secara tahunan selama semester I. Perseroan menyampaikan adanya investor strategis asing yang tertarik untuk masuk.

Presiden Direktur Cashlez Tee Teddy Setiawan tidak memerinci nama maupun asal investor yang menyatakan minatnya. Saat ini, perusahaan menjajaki pendanaan dan kemungkinan partisipasi dalam aksi korporasi selanjutnya.

“Kami selesai menandatangani perjanjian kerahasiaan bersama. Proses selanjutnya, due diligence. Setelah ada kesepakatan, akan kami umumkan,” kata Teddy dikutip dari siaran pers, Jumat (9/10).

Ia menyampaikan, volume penjualan di platform melonjak 91% secara tahunan. Jumlah pengguna juga meningkat 33% per September.

Advertisement

“Di tengah tantangan pandemi corona, perseroan terus berinovasi dan penyesuaian dari sisi produk dan layanan untuk memperkuat posisinya sebagai penyedia jasa pembayaran,” kata dia.

Dengan peningkatan tersebut, harga saham Cashlez rerata menguat 70% lebih per September dibandingkan saat penawaran perdana (IPO) pada Mei lalu.

Perseroan juga berfokus menggaet mitra selama pandemi virus corona. Perusahaan yang diajak bekerja sama strategis yakni Fabelio, Artajasa, Bank Commonwealth, ShopeePay, Post, dan Vospay.

Per Juli, Cashlez menggaet lebih dari 7 ribu bisnis dari berbagai skala usaha.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi uang elektronik secara bulanan mencapai Rp 16,7 triliun pada periode Januari-Juli. Nilainya meningkat 59% dibandingkan rata-rata transaksi tahun lalu, Rp 9,9 triliun.

Pada tahun ini, nilai transaksi tertinggi terjadi pada April, Rp 17,5 triliun. Ini bertepatan dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta.

BI juga mencatat hampir lima juta penjual menggunakan kode Quick Response standar atau QRIS untuk bertransaksi. Nilai transaksinya mencapai Rp 790 miliar selama pandemi.

Selain itu, “volume transaksinya hampir 11 juta,” kata Deputi Gubernur BI Doni P Joewono saat mengikuti Webinar Karya Kreatif Indonesia BI, kemarin (9/10).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait