Tokopedia Isyaratkan Merger dengan Bridgetown Bagian dari Opsi IPO

Perusahaan yang didukung oleh miliarder Richard Li dan Peter Thiel, Bridgetown dikabarkan mengkaji merger dengan Tokopedia. Unicorn Indonesia ini mengakui bersiap IPO, salah satu opsinya lewat SPAC.
Desy Setyowati
16 Desember 2020, 21:59
Dikabarkan Kaji Merger dengan Bridgetown, Tokopedia Akui Bersiap IPO
ilustrasi/Tokopedia
Ilustrasi Tokopedia

Kabar merger antara unicorn Tokopedia dengan perusahaan investasi Bridgetown Holdings Ltd. semakin terang. Merger dengan perusahaan yang didukung oleh miliarder Richard Li dan Peter Thiel tersebut diperkirakan merupakan bagian dari opsi rencana penawaran saham perdana ke publik atau IPO Tokopedia dalam waktu dekat.

Perwakilan Tokopedia mengatakan, salah satu opsi potensial untuk IPO yakni melalui perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC). Perusahaan cek kosong (blank check) ini biasanya sudah mencatatkan sahamnya di bursa efek.

“SPAC menjadi salah satu opsi potensial yang bisa kami pertimbangkan,” kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (16/12).

SPAC disebut perusahaan cek kosong karena tidak memiliki operasi apa pun. Perusahaan jenis ini merupakan sarana investasi yang dibuat khusus untuk mengumpulkan dana para orang kaya.

Selanjutnya, dana itu dipakai untuk membiayai peluang merger atau akuisisi dalam jangka waktu yang ditetapkan. Tapi, target perusahaan yang dimerger atau diakuisisi biasanya belum diidentifikasi.

Jadi, IPO SPAC digunakan untuk menyelesaikan kesepakatan masa depan dengan perusahaan tertentu yang lebih memilih menjadi perusahaan publik melalui merger terbalik. Nah, Bridgetown Holdings Ltd merupakan salah satu SPAC.

Bridgetown merupakan perusahaan publik yang tercatat di bursa saham Amerika Serikat. Berdasarkan penelusuran D-Insights atas prospektus Bridgetown kepada regulator bursa AS, Securities and Exchange Commission (SEC), Richard merupakan pemegang saham beberapa entitas raksasa.

Melalui perusahaan investasinya, Pacific Century Group, Richard masuk ke FWD Group Ltd dan Legendary Pictures. Ia juga tercatat sebagai investor awal Tencent. Selain itu, dikabarkan sudah lama tertarik dengan Tokopedia.

Taipan Hong Kong itu pun menunjuk CEO Pacific Century Daniel Wong sebagai anggota dewan direksi Tokopedia. Daniel mewakili Pacific Century memimpin pendanaan seri D untuk Tokopedia pada Juni 2013.

Sedangkan miliarder Peter Thiel merupakan pemilik Bridgetown, melalui perusahaan investasi Thiel Capital. Ia juga investor terkenal di Silicon Valley yang ikut mendirikan PayPal dan Palantir Technologies Inc.

Ia juga berinvestasi di Facebook Inc, LinkedIn, Yelp, Stripe, Brex, Trumid, SoFi, SpaceX, Spotify, Airbnb, dan Qoo10.

Fakta lainnya, IPO Bridgetown yang menghasilkan US$ 550 juta pada Oktober lalu, mengonfirmasi dugaan bahwa perusahaan ini dibentuk khusus untuk mengakuisisi Tokopedia. Dalam prospektus, perusahaan menyatakan fokus bisnisnya yakni sektor teknologi, jasa keuangan, atau media di Asia Tenggara.

Jika Bridgetown jadi merger, ambisi Tokopedia untuk mengumpulkan dana hingga US$ 1 miliar sebelum IPO pada 2023 akan terwujud. Merger juga memungkinkan IPO di dua bursa atau dual listing yakni di AS dan Indonesia.

Meski begitu, Tokopedia masih enggan memastikan rencana IPO melalui merger dengan SPAC Bridgetown tersebut. "Belum ada yang kami putuskan untuk saat ini," kata perwakilan Tokopedia tersebut.

Yang jelas, Tokopedia mempertimbangkan untuk mempercepat rencana IPO. “Kami telah menunjuk Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat dalam hal ini. Saat ini, kami belum memutuskan pasar dan metode untuk ini,” ujar dia..

Namun, Presiden Tokopedia Patrick Cao pernah menyampaikan bahwa perusahaan berencana IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Amerika Serikat (AS) dalam tiga tahun ke depan.

“Saya pikir (bursa AS) memiliki kedalaman paling dalam terkait likuiditas, keahlian di bidang teknologi serta penelitian,” kata dia di sela-sela acara Nikkei Forum Innovative Asia dikutip dari Nikkei Asian Review, Januari lalu (17/1).

Seiring rencana IPO Tokopedia, adopsi layanan e-commerce melonjak selama pandemi corona. Berdasarkan riset Facebook dan Bain and Company, konsumen digital di Indonesia diperkirakan meningkat dari 119 juta tahun lalu menjadi 137 juta pada 2020. Persentasenya pun melonjak dari 58% menjadi 68% terhadap total populasi.

Sedangkan jumlah konsumen digital di Asia Tenggara tertera pada Databoks di bawah ini:

Video Pilihan

Artikel Terkait