Tokopedia Berencana IPO di Indonesia dan AS dalam Tiga Tahun ke Depan

Tokopedia dikabarkan sedang dalam pembicaraan mencari pendanaan baru sekitar US$ 1,5 miliar, sebelum IPO di dua bursa.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
20 Januari 2020, 13:45
Tokopedia Berencana IPO di Indonesia dan AS dalam Tiga Tahun ke Depan
ilustrasi/Tokopedia
Ilustrasi, Tokopedia.

Perusahaan e-commerce, Tokopedia berencana melakukan penawaran saham perdananya (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa di Amerika Serikat (AS) dalam tiga tahun ke depan. Rencana itu disiapkan sejak lama.

“Saya pikir (bursa AS) memiliki kedalaman paling dalam terkait likuiditas, keahlian di bidang teknologi serta penelitian,” kata Presiden Tokopedia Patrick Cao di sela-sela acara Nikkei Forum Innovative Asia dikutip dari Nikkei Asian Review, akhir pekan lalu (17/1). Karena itu, perusahaan berencana melantai di dua bursa saham (dual listing) yakni AS dan Indonesia.

Ia mengatakan, beberapa startup skala besar seperti Alibaba dual listing. Di Indonesia, Gojek dan Traveloka juga merencanakan hal yang sama. Hanya, masing-masing perusahaan masih mengkaji bursa yang akan dipilih untuk menawarkan saham perdananya.

Patrick menjelaskan, menurunnya kinerja keuangan WeWork tidak berpengaruh terhadap Tokopedia. Meskipun perusahaannya juga mendapat investasi dari SoftBank, yang merupakan investor WeWork.

"Banyak hal yang telah dibicarakan oleh pers mengenai keuntungan, kami telah menerapkan, sebenarnya, dari awal tahun lalu,” kata Cao. Nikkei Asian Review mencatat, Tokopedia sempat menargetkan bisa mencapai titik impas (break even point/BEP) pada 2021.

(Baca: Tokopedia Siapkan IPO di Bursa Dua Negara, Kemungkinan di Luar Asia)

Selain itu, ia menegaskan bahwa perusahaannya optimistis bisa IPO dalam tiga tahun ke depan. Menurut dia, Meituan-Dianping merupakan contoh yang baik sebagai perusahaan yang meraup untung setelah IPO.

Katadata.co.id menghubungi Tokopedia perihal rencana IPO pada 2023. VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak menyatakan, perusahaanya pasti melantai di bursa saham. Dengan begitu, masyarakat berkesempatan memiliki saham Tokopedia.

“Persiapan untuk melantai di bursa saham ini sudah kami petakan, rencanakan dan siapkan dari jauh hari,” kata dia kepada Katadata.co.id, Senin (20/1).

Tahun ini, unicorn Tanah Air itu berfokus menjadi super ekosistem melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. “Pastinya yang utama Indonesia, dan kemungkinan besar memang dual listing,” katanya.

Sebelumnya, Tokopedia dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk mengumpulkan pendanaan US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 21 triliun. Putaran pendanaan itu kabarnya menjadi yang terakhir, sebelum IPO.

(Baca: Dikabarkan Cari Pendanaan Rp 21 Triliun, Tokopedia: Banyak Rumor Pasar)

Menurut sumber Bloomberg, investor Tokopedia saat ini (existing investors) yang merupakan perusahaan internet asal Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan untuk terlibat dalam pendanaan ini. Perkiraannya, investasi yang digalang sekitar US$ 1 miliar hingga US$ 1,5 miliar (Rp 14 triliun sampai Rp 21 triliun).

Para sumber yang mengetahui diskusi itu mengatakan, putaran penggalangan dana akan dilakukan pada Kuartal I 2020. Namun, mereka menyatakan bahwa pembicaraan ini masih berlangsung, sehingga nilai investasinya dapat berubah.

Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia William Tanuwijaya sempat mengatakan, dirinya berharap bisa menarik investor baru sebelum mencatatkan perusahaannya di bursa saham. Namun, ia enggan berkomentar perihal waktu IPO karena ada ketidakpastian perekonomian global.

Ia menyampaikan, perusahaan sudah bersiap untuk melantai di dua bursa saham mulai 2019. "Rencana ada dual listing yang satu di Indonesia dan satu di luar negeri. Mencari negara yang melirik pasar Indonesia," kata dia di Jakarta, beberapa waktu lalu (4/11/2019).

William hanya mengatakan bahwa ada kemungkinan pencatatan saham perdana dilakukan di luar Asia. Ia mencontohkan PT Telkom yang juga dual listing di BEI dan Bursa Efek New York (NYSE).

(Baca: Bersiap IPO, Tokopedia Cari Pendanaan Rp 21 Triliun)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait