Diincar Gojek – Grab, 6,5 Juta UMKM Beralih ke Digital saat Pandemi

Gojek dan Grab memperkuat ekosistem untuk menyasar UMKM. Kominfo mencatat, 6,5 juta UMKM ramai-ramai beralih ke digital saat pandemi corona.
Desy Setyowati
30 Juli 2021, 08:00
gojek, grab, umkm, pandemi corona
Katadata/desy setyowati
Ilustrasi aplikasi Gojek dan Grab

Gojek dan Grab bersaing ketat untuk menggaet Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tengah pandemi corona. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat, sekitar 6,5 juta pelaku UMKM beralih ke platform digital per Juni.

“Total ada 17 juta UMKM go digital,” kata Sekretaris Jenderal Kominfo Mira Tayyiba dalam acara virtual Bank Dunia bertajuk ‘Beyond Unicorns: Harnessing Digital Technologies for Inclusion in Indonesia’, Kamis (29/7).

Pemerintah menargetkan 30 juta UMKM beralih ke digital per 2024. Jumlahnya sekitar setengah dari total UMKM di Tanah Air.

Advertisement

Hanya, ia menyadari bahwa tidak semua orang di Indonesia mendapat akses ke internet. Data Bank Dunia menunjukkan, hanya 36% penduduk dewasa di perdesaan yang terkoneksi internet per 2019.

Di perkotaan, 62% penduduk dewasa sudah terakses internet per 2019. Porsinya meningkat dibanding 2011 yang hanya 20% di perkotaan dan 6% di perdesaan.

Secara keseluruhan, penduduk dewasa di Indonesia yang terakses internet meningkat dari 13% pada 2011 menjadi 51% per 2019.

Oleh karena itu, Kominfo berfokus menyediakan akses internal. Di tingkat hulu, kementerian meluncurkan satelit dan mendorong migrasi ke televisi atau TV digital untuk memaksimalkan spektrum frekuensi.

Di tingkat menengah, kementerian mendorong literasi digital. “Di bagian hilir, kami berfokus pada tata kelola data untuk mengatasi hoaks,” kata Mira.

Di satu sisi, UMKM menjadi incaran para unicorn seperti Gojek, Grab, Tokopedia, Bukalapak, dan lainnya. Grab dan Emtek membuat program kolaborasi berupa akselerasi UMKM bernama Festival Kota Mapan, yang akan digelar pada September mendatang. Kedua perusahaan menyasar UMKM di kota tingkat (tier) dua dan tiga.

Kota tier dua atau rising urbanites misalnya, Makassar, Denpasar, dan Semarang. Sedangkan tier tiga atau slow adapters seperti Magelang, Prabumulih, dan Bangli.

Festival Kota Mapan tahap pertama bakal digelar di Solo, Jawa Tengah. Grab dan Emtek menargetkan 1.000 UMKM terdigitalisasi. “Kolaborasi ini untuk menghadirkan digitalisasi UMKM yang lebih luas,” ujar Country Managing Director of Grab Indonesia Neneng Goenadi saat konferensi pers virtual, Senin (26/7).

UMKM yang berpartisipasi akan mendapatkan akses layanan digital di berbagai platform afiliasi. Neneng mencontohkan, UMKM bisa mengandalkan Bukalapak untuk memasarkan produk dan GrabExpress terkait pengiriman barang.

Grab dan Emtek juga mengintegrasikan berbagai platform terafiliasi seperti Bukalapak. Emtek memiliki saham di Bukalapak melalui anak usaha, Kreatif Media Karya.

Sedangkan Gojek meluncurkan platform GoToko, dan menyediakan layanan model business to business (B2B). Decacorn Tanah Air itu menghadirkan solusi usaha dari hulu ke hilir bagi para pemilik warung kelontong.

Melalui aplikasi GoToko, pemilik warung dapat memesan produk konsumsi kemasan dari sejumlah merek (brand). GoToko juga membuka peluang kerja sama dengan para produsen.

CEO sekaligus Direktur Utama GoToko Gurnoor Singh Dhillon mengatakan, layanannya mendukung para produsen dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi penjualan, serta pemasaran produk baru. Selain itu, membuka peluang dalam memanfaatkan saluran pemasaran dan kampanye digital, serta menjadi saluran riset pasar baru.

Gurnoor mengklaim, layanannya dapat mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi dalam pengoperasian saluran general trade.

Grab lebih dulu menyediakan layanan seperti itu melalui GrabKios. Decacorn asal Singapura ini mengakuisisi startup digitalisasi warung, Kudo pada 2017, yang berubah nama menjadi GrabKios pada September 2019.

GrabKios menyediakan tiga inti layanan yakni produk digital, akses ke pemasok, dan layanan keuangan. Sama seperti GoToko, platform ini menghubungkan pemilik warung dengan produsen.

Pada Agustus 2020, Gojek juga meluncurkan situs melajubersamagojek.com yang berfokus menyasar UMKM secara umum. Pelaku UMKM dapat mengakses aplikasi papan ketik dan dasbor digital, Selly.

Aplikasi Selly memudahkan pelaku usaha mengirim tagihan, mengecek ongkos kirim hingga membuat notifikasi untuk konsumen. Platform ini juga terintegrasi dengan aplikasi percakapan dan media sosial seperti WhatsApp dan Line.

Lalu pelaku usaha mendapat akses solusi pembayaran dari MidTrans Payment Link. UMKM yang tergabung juga dapat menggunakan aplikasi manajemen usaha milik Gojek, GoBiz.

Layanan lain yang dapat diakses yakni aplikasi kasir online Moka, logistik GoSend dan GoBox, GoPay, GoFood, dan GoShop. “Kami menghadirkan beragam solusi yang dapat digunakan oleh semua tipe UMKM, dari yang berskala mikro hingga besar,” ujar Co-CEO Gojek Andre Soelistyo saat konferensi pers virtual, Agustus tahun lalu (10/8/2020).

Sedangkan Grab meluncurkan GrabMerchant pada Juni 2020. Mitra UMKM di GrabFood, GrabMart, logistik dan GrabKios dialihkan ke GrabMerchant, sehingga menjadi terintegrasi.

Layanan itu beroperasi dengan model B2B, yang menyediakan beberapa fitur seperti pendaftaran mandiri, manajemen profil pemilik, pengelola toko, dan kasir untuk keamanan akun. Ada juga fitur grosir, fitur pemasaran, hingga laporan bisnis.

Melalui program #TerusUsaha, Grab menyediakan iklan gratis bagi UMKM pada laman utama aplikasi, media sosial dan saluran digital, serta influencer. Perusahaan juga menanggung biaya dan sumber daya untuk membuat materi pemasaran.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait