East Ventures Suntik Startup Fintech Komunal Rp 30 Miliar

East Ventures memimpin pendanaan seri A kepada startup Komunal US$ 2,1 juta. Fintech itu mencatatkan untung dari bisnis pinjaman baru-baru ini.
Desy Setyowati
21 September 2021, 14:42
east ventures, pendanaan, fintech
East Ventures
Para pendiri Komunal yakni Rico Tedyono, Hendry Lieviant, dan Kendrick Winoto

East Ventures memimpin pendanaan seri A kepada startup Komunal US$ 2,1 juta atau sekitar Rp 30 miliar. Komunal diklaim sebagai penyelenggara teknologi finansial (fintech) pertama yang menyediakan jasa neo-rural bank secara lokal di Indonesia.

Investor lain berpartisipasi dalam pendanaan itu yakni Skystar Capital. Keduanya merupakan penanam modal di Komunal dalam pendanaan tahap awal.

Komunal berencana menggunakan dana segar itu untuk mengakselerasi misi yakni mendorong inklusi finansial di Indonesia. Caranya, memperkuat produk terbaru Komunal, yaitu DepositoBPR.

Baru-baru ini, DepositoBPR mendapatkan lisensi resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ini menjadikan Komunal sebagai agen pendanaan alias funding agent resmi pertama di Indonesia.

Funding agent bertujuan menyediakan platform yang bisa menghubungkan deposan dan peminjam dengan institusi finansial di seluruh Indonesia, terutama Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Indonesia memiliki 1.500 BPR. Meskipun hanya diperbolehkan menyalurkan kredit di provinsi masing-masing, BPR bisa menerima deposit dari berbagai daerah dengan jaminan bunga hingga 2,5% lebih tinggi dari bank komersial, dari pemerintah.

Namun 1.500 BPR gabungan itu hanya berkontribusi 1,5% dari total deposan negara. Ini karena sebagian besar BPR terletak di pinggiran kota dan belum terdigitalisasi. Alhasil, produk mereka tidak dikenal dan tak dapat diakses oleh deposan perkotaan. 

DepositoBPR memungkinkan seluruh penduduk Indonesia mendapatkan bunga tertinggi yang dijamin oleh pemerintah, saat membuka rekening deposito di BPR di daerah manapun. Selain itu, tanpa harus mendatangi bank secara langsung.

BPR tetap bisa menerima deposit dari seluruh Indonesia tanpa harus membuka cabang. Dengan kata lain, BPR dapat menerima setoran tanpa memedulikan batasan geografi.

“Kami percaya kerja sama yang kuat antara funding agent dan BPR akan mendorong inklusi finansial negara ini dengan sangat baik,” kata Co-Founder Komunal Hendry Lieviant.

Ia menyampaikan, kebutuhan BPS berubah sangat dinamis dalam hal pemberian pinjaman dan pendanaan. Ini karena skala usahanya lebih kecil ketimbang bank komersial.

“Kami melihat berbagai kolaborasi dari sisi pinjaman, namun BPR tidak memiliki banyak pilihan untuk menyalurkan pendanaan walaupun mereka menawarkan produk yang menarik dan aman,” katanya.

Saat pandemi corona, ia mencatat bahwa BPR mengalami kesulitan menerima deposit. Ini karena 95% dari deposan Indonesia tinggal di area perkotaan. “Kami berharap platform ini (Komunal) bisa menjembatani masalah ini,” katanya.

Namun ia menyadari bahwa salah satu tantangan utama dalam mengembangkan platform yakni membakukan dan mengoptimalkan proses-proses BPR yang saat ini terpecah-pecah. Misalnya, mengganti tanda tangan basah menjadi digital.

Bisa juga, mengenali identitas nasabah melalui video call dengan vendor e-KYC atau Know Your Customer. Yang paling penting yaitu mengubah bilyet fisik menjadi e-bilyet.

Co-Founder Komunal Kendrick Winoto menyampaikan, dengan membawa digitalisasi ke ekosistem, perusahaan akan meluncurkan e-bilyet deposito BPR pertama di Indonesiapada akhir tahun. “Ini merupakan fitur yang revolusioner,” kata dia.

Selama ini deposito BPR masih mengandalkan bilyet atau sertifikat fisik. Contohnya, BPR di Bali harus mengirimkan bilyet fisik ke deposan yang ada di Jakarta. Begitu juga sebaliknya.

“Akhirnya, biaya logistik yang cukup tinggi tidak bisa terhindarkan. Melalui e-bilyet, masalah ini bisa teratasi dan visi Komunal untuk membuat produk yang dapat diakses secara nasional bisa tercapai,” ujar Kendrick.

Saat ini, Komunal bermitra dengan 60 BPR di Jawa dan Bali. Selain itu, meluncurkan DepositoBPR versi beta bulan lalu.

Komunal sedang berfokus melipatgandakan market share BPR dengan menawarkan bunga yang lebih tinggi. Selain itu, memberikan layanan transaksi yang lebih mulus kepada nasabah lama maupun baru.

Startup fintech itu telah memberikan pinjaman US$ 50 juta atau sekitar Rp 713 miliar untuk ratusan UKM di Indonesia. Angkanya dua kali lipat lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Komunal menargetkan pemberian pinjaman US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun hingga tahun depan. Fintech ini juga memperkuat arus kas dengan burn rate yang rendah, karena bisnis pinjaman yang telah meraih untung baru-baru ini.

Co-Founder sekaligus Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menambahkan, Komunal membawa inklusi finansial ke level berikutnya. Ia mencatat, ada banyak startup yang memberi solusi kepada konsumen yang tidak memiliki rekening bank dan tak mendapatkan layanan yang baik.

“Namun, belum ada yang memberikan solusi kepada BPR,” kata dia. “Komunal memperkenalkan konsep baru, yaitu ‘neo-rural bank’ untuk mengembangkan bank kecil dengan kapabilitas canggih.”

 DisclaimerEast Ventures adalah salah satu investor Katadata

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait