Gambaran Dunia Virtual Metaverse yang Dibidik Facebook dalam 5 Tahun

Facebook berganti nama menjadi Meta dan berfokus menuju perusahaan metaverse dalam lima tahun. Dunia virtual yang akan dibangun induk Instagram itu disebut mirip film Ready Player One.
Desy Setyowati
29 Oktober 2021, 13:13
Facebook, metaverse, virtual reality, vr, augmented reality
Solen Feyissa/Unsplash
Ilustrasi cara mengganti nama Facebook

Facebook Inc. resmi berganti nama menjadi Meta Platforms Inc., dan berfokus menuju perusahaan metaverse. Induk Instagram ini akan membangun dunia virtual menggunakan beragam perangkat berbasis virtual reality (VR) dan augmentend reality (AR).

“Metaverse adalah perbatasan berikutnya,” kata CEO Meta Mark Zuckerberg saat presentasi di konferensi Connect Facebook yang diadakan secara virtual, dikutip dari Bloomberg, Jumat (29/10).

Zuckerberg menargetkan Facebook berubah menjadi perusahaan metaverse dalam lima tahun. "Kami pada dasarnya bergerak dari Facebook sebagai perusahaan media sosial menjadi perusahaan 'metaverse' pertama.”

Advertisement

Meta menggambarkan ‘metaverse’ sebagai teknologi yang memungkinkan orang-orang berkumpul dan berkomunikasi dengan memasuki dunia virtual.

Meski begitu, nama baru tidak akan memengaruhi cara Facebook menggunakan atau membagikan data. Struktur perusahaan juga tak berubah. Aplikasi termasuk Instagram, Messenger, dan WhatsApp juga akan mempertahankan nama mereka.

Zuckerberg juga berjanji bahwa metaverse akan memiliki standar privasi, kontrol orang tua, dan transparansi penggunaan data. “Setiap orang yang membangun metaverse harus berfokus membangun secara bertanggung jawab sejak awal,” kata Zuckerberg. “Ini adalah salah satu pelajaran yang saya pelajari selama lima tahun terakhir.”

Namun Meta akan memisahkan bisnis periklanan digital utama dari investasi baru di AR dan VR. Ini supaya investor dapat melihat biaya dan pendapatan terkait metaverse.

Perusahaan juga memperkirakan laba operasional berkurang US$ 10 miliar tahun ini karena investasi di Reality Labs. Meta menunjuk Andrew Bosworth, eksekutif lama yang mengawasi produk AR dan VR Meta sejak 2017, sebagai chief technology officer (CTO) mulai awal 2022.

Salah satu aplikasi metaverse yang akan dikembangkan oleh Facebook yakni konser 3D atau tiga dimensi. “Anda merasa hadir dengan orang lain, seolah-olah berada di tempat lain. Memiliki pengalaman berbeda yang tidak dapat dilakukan di aplikasi atau halaman web 2D, seperti menari atau berbagai jenis olahraga,” ujar Zuckerberg.

Facebook juga sedang mengerjakan platform ‘kantor tanpa batas’ melalui VR. “Alih-alih panggilan telepon, Anda akan dapat duduk sebagai hologram di sofa saya, atau sebaliknya,” kata dia.

CMO Network, perusahaan yang berfokus pada teknologi komputasi baru, Cathy Hackl menggambarkan metaverse sebagai dunia virtual. Ini menjadi tempat alternatif bagi orang-orang untuk bekerja, bermain, dan bersosialisasi.

“Anda dapat menyebutnya metaverse, dunia cermin, AR Cloud, Magicverse, internet Spasial, atau Live Maps, tetapi satu hal yang pasti, itu akan datang dan ini adalah masalah besar,” kata Hackl dikutip dari The Forbes, pada Juli (5/7).

Ia mengatakan, saat ini, orang-orang hanya dapat merasakan internet ketika membuka ponsel pintar (smartphone), laptop, dan perangkat lainnya. Dengan metaverse, internet dapat dirasakan setiap waktu.

Menurutnya, metaverse yang dikembangkan oleh Facebook lebih dari sekadar istilah pada novel sci-fi Neal Stephenson. Saat ini, metaverse adalah ruang virtual bersama di mana orang diwakili oleh avatar digital, seperti film Ready Player One.

Film Ready Player One
Film Ready Player One (Netflix)

Dalam acara KTT Global VRARA, Head of Trend Scouting Nokia Leslie Shannon mengatakan bahwa metaverse adalah puncak dari semua yang dikembangkan pada AR dan VR.

“Ini adalah ide untuk mengambil informasi tentang hal-hal, lokasi, atau peristiwa sejarah dan benar-benar menemukan informasi itu di luar sana di dunia yang paling relevan,” kata dia.

Di dunia virtual atau metaverse, orang tidak akan berkeliaran secara individual. Mereka akan memiliki koneksi dengan orang lain, bahkan NPC otonom dan hologram.

Setiap orang juga bisa mencoba barang yang ingin dibeli secara virtual. Ini artinya, produsen harus merancang merek (brand) untuk konsumen pada tingkat kekayaan berbeda.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait