Ancaman Inflasi Tinggi, Mana Sektor Startup yang Raih Untung dan Rugi?

Fahmi Ahmad Burhan
8 Juli 2022, 15:48
startup, inflasi, resesi
Katadata
Diskusi Katadata Forum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2019.

Inflasi Indonesia 4,35% secara tahunan (year on year/yoy) atau yang tertinggi sejak Juni 2017, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Kondisi ini juga berdampak terhadap bisnis startup.

Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi Juni 0,61%. Utamanya karena kenaikan harga pangan, seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam.

Bank Dunia mengatakan, berdasarkan ekspektasi konsumen dan dunia usaha saat ini, inflasi tinggi di Indonesia mungkin tidak bersifat sementara. Namun, ketidakpastian dari lingkungan global akan menjadi penentu berapa lama inflasi tinggi bertahan.

Ketua Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo)  Eddi Danusaputro memperkirakan, inflasi tinggi akan berpengaruh pada startup yang menjalankan bisnis model Business to Customer (B2C).

“Yang terkena dampak itu B2C. Ini karena end user atau konsumen akhir lebih price sensitive. Makanya, kondisi ini harus disiasati. Startup harus selektif dan tidak jor-joran bakar uang,” kata Eddi kepada Katadata.co.id, Jumat (8/7).

Gojek, Tokopedia, Bukalapak hingga Shopee memiliki lini bisnis B2C. Namun mereka juga mempunyai layanan dengan bisnis model Business to Business (B2B) maupun Business to Business to Customer (B2B2C).

Bisnis model B2C adalah bisnis yang melakukan pelayanan atau penjualan barang atau jasa kepada konsumen perorangan atau grup secara langsung. Sedangkan layanan B2B diperuntukkan untuk perusahaan lain, bukan langsung kepada perorangan atau grup.

Sedangkan B2B2C menyediakan layanan yang menghubungkan konsumen korporasi dengan individu.

Namun Eddi menilai, ada juga startup yang mungkin diuntungkan dari kenaikan inflasi. “Karena orang beralih kebiasaan. Tadinya sering makan di restoran, kemudian ke warung. Jadinya warung diuntungkan, karena perubahan pola hidup orang dari inflasi,” katanya.

“Atau, tadinya naik taksi, beralih ke ojek online. Bisa juga, biasanya naik pesawat menjadi naik kereta. Sebenarnya di kondisi apapun juga, dari inflasi akan ada peralihan perilaku,” tambah dia.

Direktur Bukalapak Teddy Oetomo pun menyampaikan bahwa terjadi downtrading dari konsumen saat inflasi tinggi. Ia mencontohkan, masyarakat beralih dari konsumsi sampo botol menjadi saset.

Perubahan perilaku berpotensi mendorong transaksi warung. Sedangkan Bukalapak memiliki layanan Mitra Bukalapak yang menyasar warung.

Oleh karena itu, ia tetap optimistis pada bisnis Bukalapak di tengah kondisi ekonomi saat ini. Hal ini ia sampaikan saat konferensi pers virtual akhir bulan lalu (29/6).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...