Investor Kripto RI Tembus 16 Juta tapi Transaksi Anjlok Jadi Rp 249 T

Jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 16,1 juta. Namun transaksinya turun 56,35% sejak awal tahun.
Lenny Septiani
26 Oktober 2022, 16:01
kripto, bitcoin,
Wikimedia
Bitcoin

Jumlah investor kripto di Indonesia mencapai 16,1 juta. Sedangkan transaksinya Rp 249,3 triliun selama Januari – Agustus atau turun 56,35% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pendiri sekaligus CEO Bitocto Milken Jonathan menilai, penurunan nilai transaksi aset kripto merupakan dampak dari kondisi ekonomi global. Sejumlah negara diperkirakan mengalami resesi dan ada tantangan geopolitik dari perang Rusia – Ukraina.

Selain itu, kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed memengaruhi likuiditas dari berbagai aset.

Lalu, secara mikro, salah satu penyebab penurunan transaksi aset kripto yakni tarif pajak di Indonesia. Sedangkan sejumlah bursa global menerapkan trading fee cenderung murah atau bahkan gratis untuk pairing tertentu.

Advertisement

“Dengan adanya tarif pajak, para exchanger lokal tentu sulit bersaing dan dapat menyebabkan capital outflow karena kecenderungan melakukan perdagangan di exchanger luar,” kata Milken dalam keterangan pers, Rabu (26/10).

Oleh karena itu, menurutnya pemerintah dapat mempertimbangkan relaksasi beberapa aturan terlebih dahulu di tengah kondisi makro ekonomi sekarang ini.

Honorary Member Asosiasi Blockchain Indonesia (A-B-I) sekaligus Dosen Telkom University Andry Alamsyah menambahkan, kondisi bear market merupakan kondisi berulang dan pernah terjadi. Untuk industri kripto, menurutnya proyek-proyek yang ada dapat berfokus ke fundamental function di tengah kondisi ini.

“Jika kondisi kembali pulih, maka produk/jasa yang ditawarkan oleh proyek tersebut lebih legit dan matang. Blessing in disguise dari kondisi bear market ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang aset kripto untuk riset lebih dalam guna menghasilkan output produk dengan fundamental lebih baik,” ujat Andry.

Sedangkan Chairwoman A-B-I Asih Karnengsih mengatakan, kondisi bear market menuntut pelaku usaha di industri ini untuk berfokus pada aktivitas yang dapat memperkuat ekosistem industri secara nasional. Sebab, Indonesia dinilai memiliki potensi besar.

Reporter: Lenny Septiani
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait