Incar 10 Juta Mitra, Bukalapak Siapkan Tiga Strategi
PT Bukalapak.com Tbk melalui lini bisnis online to ofline (O2O) mereka PT Buka Mitra Indonesia menargetkan menggandeng 10 juta mitra, seperti warung dan agen pulsa, hingga akhir tahun ini. Bukalapak pun menyiapkan tiga strategi.
CEO Mitra Bukalapak Howard Gani mengatakan, strategi pertama perusahaan akan menyasar kota tingkat (tier) dua dan tiga, serta wilayah luar Pulau Jawa. "Kami ingin untuk terus menyasar mitra potensial di seluruh wilayah Indonesia," kata Howard dalam konferensi pers virtual pada Senin (13/9).
Di Indonesia baru ada 30% usaha mikro atau warung yang terdigitalisasi. "Kebanyakan 70% yang belum terdigitalisasi itu ada di kota tier dua dan tiga. Maka kami fokuskan di sana," kata Howard.
Kota tier dua atau rising urbanites seperti Makassar, Denpasar, dan Semarang. Sedangkan tier tiga atau slow adapters misalnya, Magelang, Prabumulih, dan Bangli.
Kedua, menambah sejumlah layanan baru. "Kami dorong produk dan layanan baru," kata Howard. Hingga saat ini, sudah ada 40 produk virtual yang ada di platform Mitra Bukalapak, termasuk produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG), kirim uang, isi pulsa, hingga tagihan.
Ketiga, kolaborasi. "Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan pihak swasta maupun pemerintah dalam mencapai tujuan kami," kata Howard.
Sejumlah pihak yang menjadi sasaran kolaborasi, antara lain perusahaan FMCG, logistik, hingga instansi pemerintahan. "Kami misalnya, sudah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk memperluas varian produk," katanya.
Bukalapak juga menggencarkan kolaborasi dengan ekosistem yang sudah terbentuk. Misalnya, dengan Grab. "Di aplikasi sudah terintegrasi," ujarnya. Perusahaan mengintegrasikan layanan top up saldo untuk driver Grab.
Hingga kini, Bukalapak telah menggaet 8,7 juta mitra. CEO Bukalapak.com Rachmat Kaimuddin mengatakan, setelah mencatatkan penawaran saham perdana ke publik atau IPO, perusahaan memang gencar menyasar warung dengan mengembangkan lini bisnis O2O tersebut. Sebab, potensinya besar. "Orang Indonesia masih senang berbelanja di warung," kata Rachmat.
Riset Euromonitor International 2018 menunjukkan, mayoritas masyarakat Indonesia, India, dan Filipina lebih suka berbelanja di warung atau toko kelontong.
Perusahaan sekuritas CLSA juga mencatat, biaya akuisisi konsumen alias customer acquisition costs (CACs) melalui mitra warung sekitar 10-20% yakni US$ 2 per pelanggan atau kurang dari Rp 30.000. Biayanya lebih murah dibandingkan cara umum.
Selain itu, layanan O2O seperti warung juga berkontribusi 10% terhadap total pengguna baru di e-commerce.
Lini bisnis O2O juga dianggap akan berkontribusi besar terhadap kinerja pendapatan Bukalapak. Total nilai proses bisnis (Total Processing Value/TPV) Mitra Bukalapak meningkat 48% pada kuartal kedua tahun ini.
Bukalapak juga mengklaim, lini bisnis O2O mereka bisa mendongkrak pendapatan dan transaksi mitranya lebih dari dua kali lipat setelah bergabung.
