Riset: Setiap Rp 1 Pinjaman Daring Produktif Dongkrak Omzet UMKM hingga 121%

Rahayu Subekti
20 Juli 2026, 19:02
pinjaman daring, pinjol, pindar,
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/foc.
Pekerja melakukan siaran langsung (live streaming) mempromosikan tas produk Tweelyforbag di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (17/6/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pembiayaan produktif dari industri pinjaman daring (pindar) dinilai tidak lagi sekadar membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memenuhi kebutuhan modal kerja. Riset Katadata Insight Center menunjukkan pendanaan tersebut juga berkorelasi dengan peningkatan omzet, keuntungan, hingga perluasan pasar.

Berdasarkan hasil riset terhadap 309 pelaku UMKM penerima pembiayaan pindar, setiap Rp 1 pembiayaan produktif yang diterima berkorelasi dengan kenaikan rata-rata omzet bulanan sekitar 121%. Sementara itu, keuntungan bersih meningkat sekitar 155%.

Riset tersebut juga mencatat setiap Rp 1 pembiayaan produktif dari pindar menghasilkan multiplier effect sebesar 1,69 kali terhadap perekonomian melalui peningkatan output dan aktivitas di sepanjang rantai pasok.

Selain meningkatkan kinerja usaha, pembiayaan berbasis teknologi turut mendorong digitalisasi UMKM. Pelaku usaha tercatat semakin aktif memanfaatkan marketplace dan media sosial setelah memperoleh akses pendanaan.

Dana pinjaman digunakan untuk menambah stok barang, membeli perangkat digital, hingga membiayai promosi secara daring untuk menjangkau konsumen baru.

Survei Katadata Insight Center menunjukkan segmen pelanggan dan wilayah distribusi UMKM meningkat hingga 421% setelah memperoleh pembiayaan. Temuan ini mengindikasikan bahwa akses modal kerja tidak hanya memperkuat kapasitas produksi, tetapi juga mempercepat penetrasi pasar.

"Dengan kata lain, pendanaan pindar tidak hanya memperkuat sisi produksi, tetapi juga memperluas jangkauan permintaan," demikian pernyataan dalam riset tersebut.

Pembiayaan Produktif Terus Bertambah

Sejalan dengan temuan tersebut, penyaluran pembiayaan pindar ke sektor produktif terus meningkat.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan pindar untuk sektor produktif dan UMKM mencapai Rp 34,95 triliun pada Mei 2026, naik dibandingkan Rp 34,80 triliun pada April.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan pembiayaan digital semakin diarahkan untuk mendukung aktivitas usaha, terutama bagi UMKM yang masih kesulitan memperoleh akses kredit dari perbankan.

Menurut dia, teknologi memungkinkan proses penilaian risiko dilakukan lebih cepat dan fleksibel sehingga pelaku usaha yang layak secara bisnis, tetapi belum memenuhi persyaratan administratif bank, tetap memiliki peluang memperoleh pembiayaan.

"Data menunjukkan dana yang disalurkan bukan hanya menopang arus kas, tetapi juga mendorong ekspansi usaha, peningkatan kapasitas produksi, dan pembukaan pasar baru," ujar Entjik dalam pernyataan tertulisnya, Senin (20/7).

Riset yang sama menunjukkan mayoritas pelaku UMKM memanfaatkan pembiayaan untuk kebutuhan produktif. Sebanyak 16,9% responden menggunakan dana untuk membeli bahan baku, 11,3% untuk ekspansi usaha, dan 11,2% untuk membiayai operasional bisnis. Selebihnya digunakan untuk memperluas gudang maupun pelatihan usaha.

Temuan tersebut menunjukkan pembiayaan pindar tidak lagi hanya dimanfaatkan untuk menutup kebutuhan likuiditas jangka pendek, melainkan juga untuk meningkatkan kapasitas usaha.

Dukung Target Digitalisasi UMKM

AFPI menilai hasil riset tersebut sejalan dengan target pemerintah yang ingin mendorong 30 juta UMKM masuk ke ekosistem digital.

Menurut Entjik, akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting agar transformasi digital tidak berhenti pada pembukaan toko di marketplace, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi, logistik, hingga strategi pemasaran.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyampaikan nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$ 99 miliar atau Rp 1.656 triliun pada 2025 berdasarkan laporan eConomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain.

Menurut Airlangga, pemerintah memandang digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) sebagai mesin pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia.

Ia menambahkan, pemanfaatan AI pada layanan transportasi daring dapat mendukung mitra pengemudi, pelaku UMKM, serta konsumen, sekaligus menciptakan peluang kerja baru. Selain itu, pemanfaatan data secara instan, mulai dari tren penjualan hingga ringkasan pelanggan, dinilai dapat membantu UMKM menentukan produk yang perlu dikembangkan maupun dipasok.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...