Indonesia Masuk 5 Besar dengan Startup Terbanyak di Dunia

Desy Setyowati
31 Oktober 2021, 15:59
startup, unicorn, decacorn
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/AWW.
Warga mengamati aplikasi-aplikasi startup yang dapat diunduh melalui telepon pintar di Jakarta, Selasa (26/10/2021).

DealStreetAsia melaporkan, pendanaan ke startup Asia Tenggara mencapai US$ 17,2 miliar dalam sembilan bulan terakhir. Nilainya lebih dari dua kali lipat dibanding total sepanjang 2020 yang hanya US$ 8,5 miliar.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan bahwa konglomerat di Asia Tenggara gencar menggandeng modal ventura atau menyuntik langsung startup. Di Indonesia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga semakin masif berinvestasi di perusahaan rintisan.

Perusahaan induk, perusahaan investasi keluarga, dan konglomerat lainnya mulai dari Dhanin Chearavanont Thailand hingga Lance Gokongwei di Filipina berinvestasi jutaan dolar untuk startup. Ada yang langsung menyuntikan modal dan ada pula yang bermitra dengan modal ventura, termasuk di Silicon Valley.

“Dinamika bisnis keluarga di Asia Tenggara menjadi sangat hidup dengan apa yang dibawa oleh teknologi dan investasi teknologi karena keberhasilan startup baru-baru ini,” kata Managing Partner 500 Startups Asia Tenggara Vishal Harnal dikutip dari Bloomberg, dua pekan lalu (18/10).

500 Startups Asia Tenggara merupakan investor awal Grab dan Carousell. “Ada lebih banyak perusahaan keluarga yang masuk untuk mengejar itu (startup) dan pandemi mempercepat perlombaan ini,” ujar dia.

Cento Ventures mengumumkan, modal ventura menggelar 393 kesepakatan atau pendanaan ke startup Asia Tenggara senilai US$ 4,4 miliar pada paruh pertama tahun ini. Jumlahnya menyentuh rekor.

Di Indonesia, Intudo Ventures mengumpulkan US$ 115 juta untuk menutup dana ketiga. Perusahaan menggalang dana dari lebih 30 bisnis keluarga dan konglomerat.

Investor tahap awal yang berbasis di Sunnyvale, California, Plug and Play Tech Center juga menandatangani lebih dari selusin mitra di Asia Tenggara. Kebanyakan dari mereka adalah grup yang dikendalikan oleh keluarga.

Mereka termasuk konglomerat Filipina Aboitiz Power Corp di Filipina, Charoen Pokphand Group Co. Thailand, dan Astra International Indonesia.

Perusahaan minyak dan gas milik negara Thailand PTT Pcl pun menandatangani perjanjian kemitraan dengan Plug and Play. Salah satu unit juga bekerja sama dengan 500 Startups untuk menyiapkan US$ 25 juta untuk berinvestasi dalam bisnis startup tahap awal di Thailand dan Asia Tenggara.

“Mereka melihat apa yang akan berdampak pada bisnis, seperti pandemi corona. Mereka perlu mengembangkan ide-ide baru,” kata Wakil Presiden Eksekutif Plug and Play Shawn Dehpanah. “Korporasi-korporasi besar ini pilar untuk mempercepat inovasi di startup sekarang.”

Di Indonesia, BUMN juga gencar berinvestasi di startup. Ada empat modal ventura di bawah BUMN di Nusantara yakni MDI Ventures dari Telkom, Telkomsel Mitra Inovasi (TMI), Mandiri Cpital Indonesia, dan BRI Ventures. BNI juga berencana mendirikan perusahaan sejenis.

Keempat modal ventura itu menyuntik modal puluhan startup di dalam dan luar negeri. Ada tiga sektor perusahaan rintisan yang paling banyak diincar yakni fintech, logistik, dan Software as a Services (SaaS).

Halaman:

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...