Induk Instagram Rilis Model AI Muse Spark yang Bikin Investor Lega
Induk Instagram, Meta Platforms, meluncurkan model kecerdasan buatan terbarunya, Muse Spark. Aksi korporasi Meta ini meredakan kekhawatiran investor yang selama ini menunggu strategi perusahaan dalam hal kecerdasan buatan atau AI.
Model yang sebelumnya dikenal dengan nama kode Avocado ini diperkenalkan pada awal April 2016. Ini menandai pergeseran besar dari pendekatan open source yang selama ini diusung melalui model Llama.
Berbeda dari Llama yang dibuka untuk komunitas, Muse Spark justru mengadopsi pendekatan tertutup. Menurut laporan CNBC, Selasa (28/4), strategi ini dinilai lebih dekat dengan model bisnis yang dijalankan pesaing seperti OpenAI, Anthropic, dan Google yang menawarkan akses berbayar kepada pengembang sebagai sumber pendapatan baru.
Dalam peta persaingan, performa Meta AI masih belum sepenuhnya dominan. Data dari Arena.AI menunjukkan model Meta masih tertinggal dari Claude milik Anthropic dan Gemini milik Google dalam beberapa kategori, khususnya teks dan pengolahan dokumen. Meski demikian, Meta sudah mampu melampaui model GPT milik OpenAI di sejumlah aspek tertentu, menandakan adanya kemajuan signifikan.
Meta Superintelligence Labs
Peluncuran Muse Spark juga menjadi simbol restrukturisasi besar di tubuh Meta. Unit baru bernama Meta Superintelligence Labs dipimpin oleh Alexandr Wang, yang direkrut setelah investasi besar perusahaan di startup pelabelan data. CEO Meta Platforms Mark Zuckerberg juga menggaet sejumlah tokoh penting lain, seperti Nat Friedman dan Daniel Gross untuk mempercepat pengembangan AI.
Analis Citizens melihat langkah ini sebagai sinyal agresif Meta untuk mengejar ketertinggalan dari para pesaing. “Kami terkesan dnegan model Muse Spartk milik Meta. Meskipun perusahaan telah mengintegrasikan Meta AI ke dalam aplikasi intinya, kami menunggu strategi untuk mendorong penggunaan konsumen yang berskala besar yang mirip dengan chatbot AI lainnya seperti ChatGPT dan Claude karena kami percaya ini dapat membuka data dan anggaran iklan baru,” kata analis Citizens.
Bahkan, laporan JPMorgan Chase menyebut Muse Spark telah membawa Meta kembali ke dalam percakapan AI setelah sebelumnya tertinggal dalam momentum inovasi. “Sentimen investor terhadap Meta semakin konstruktif. Saham tersebut telah tertekan oleh pengeluaran dan belanja modal yang tinggi, kekhawatiran seputar penundaan model AI, dan keputusan hukum media sosial yang merugikan,” tulis Analis JPMorgan Chase.
Namun, ambisi besar ini datang dengan biaya tinggi. Meta diperkirakan akan menggelontorkan belanja modal hingga US$ 135 miliar ataus etara Rp 2.327,07 triliun (kurs Rp 17.245 per dolar AS) untuk AI pada 2026. Di saat yang sama, perusahaan juga melakukan efisiensi dengan memangkas sekitar 10% tenaga kerja atau sebesar delapan ribu karyawan.
Langkah tersebut sempat memicu kekhawatiran bahwa Meta terlalu agresif membakar uang untuk mengejar AI. Tetapi peluncuran Muse Spark mulai mengubah persepsi itu.
Analis di Loop Capital menulis dalam laporan baru-baru ini bahwa investasi besar Meta telah memicu persepsi negative. Meta disebut sedang mati-matian mengeluarkan uang untuk memperbaiki inisiatif AI yang bermasalah.
