Kasus Baru Covid Naik, Airlangga: Ada Euforia Pelonggaran PSBB dan Mal

Kasus Covid-19 akan terus bergulir dan memerlukan waktu lama untuk pulih.
Image title
19 Juni 2020, 18:58
Kasus Baru Covid Naik, Airlangga: Ada Euforia Pelonggaran PSBB dan Mal.
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) bersebelahan dengan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kanan) mengikuti ASEAN Economic Community (AEC) Council Meeting. Airlangga menyebut lonjakan kasus covid-19 terjadi akibat euforia pelonggaran PSBB.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui terdapat tambahan kasus baru Covid-19 di DKI Jakarta. Menurutnya, peningkatan terjadi lantaran ada euforia masyarakat selama masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta pembukaan mal.

"Kasus di Jakarta relatif rata-rata new cases sudah lebih merata, walau beberapa hari terakhir ada kenaikan karena euforia PSBB terbatas dan dibukanya mal-mal," kata dia dalam webinar OK OCE, Jumat (19/6).

Meski begitu,  pemerintah telah berkomitmen saat membuka aktivitas perekonomian, posisi R-0 (R-naught) berada di bawah 1.

(Baca: Menko Airlangga Prediksi Pemulihan Ekonomi dari Covid-19 hingga 2022)

Advertisement

Airlangga juga menambahkan, kasus Covid-19 akan terus bergulir dan memerlukan waktu lama untuk pulih. Oleh karena itu, Indonesia tidak bisa terus menunggu hingga kasus Covid-19 berakhir, sementara ada dampak sosial ekonomi yang harus dikorbankan.

Sebagaimana diketahui, Covid-19 telah menimbulkan sejumlah kerugian dan penurunann kinerja sebagian besar sektor usaha. Akibatnya, pengusaha ada yang merumahkan hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).  

Dari tujuh sektor usaha  yang terdampak, jumlah karyawan yang dirumahkan atau PHK diperkirakan mencapai 6 juta orang, menurut data Kamar Dagang dan Industri  (KADIN) Indonesia. 

Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk memulihkan ekonomi. Pertama, menyiapkan program exit strategy, yaitu pembukaan ekonomi secara bertahap menuju tatanan kenormalan baru. Kedua, program pemulihan ekonomi nasional. Ketiga, reset dan transformasi ekonomi.

Selain itu, pemerintah telah menyiapkan empat jaring pengaman selama masa pandemi Covid-19, yaitu jaring pengaman kesehatan, sosial, ekonomi, dan keuangan.

(Baca: Tren Belanja saat Normal Baru Mal Berubah, Barang Konsumtif Tak Laku)

Untuk jaring pengaman kesehatan, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 87,55 trliun untuk menekan penyebaran covid-19. Sedangkan untuk  jaring pengaman sosial sebesar Rp 203,90 triliun.

Berikutnya, jaring pengaman ekonomi sebesar Rp 226,72 triliun untuk insentif usaha. Selanjutnya, jaring pengaman keuangan untuk pembiayaan UMKM dan korporasi sebesar Rp 177,03 triliun.

Jumlah pasien virus corona di RI  terus bertambah.  Pemerintah mencatat, pada Jumat (19/6) kasus Covid-19 kembali meningkat, 1.041 kasus menjadi 43.803 orang. Peningkatan kasus terbanyak berada di Sulawesi Selatan yakni 207 orang dan DKI Jakarta sebanyak 141 orang seperti yang terlihat dalam databoks di bawah ini.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun menyebut lonjakan kasus Covid-19 di Jakarta terjadi karena tes massal. Pemprov akan aktif melacak sampai ke kediaman warga yang berpotensi terinfeksi Covid-19.

"Ketika pelonggaran (PSBB), kami instruksikan ke seluruh Puskesmas active case finding, jemput bola," kata Anies.

Meski begitu, Anies mengatakan tidak melihat tanda-tanda PSBB transisi perlu dihentikan dan kembali diperketat. "Bila indikator menunjukan keselamatan warga terancam, maka kami akan kembali kendalikan dengan menerapkan PSBB pra transisi. Berdasarkan evaluasi 10 hari terakhir, indikator itu tidak nampak," katanya.

Reporter: Rizky Alika
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait