Ketegangan AS-Tiongkok Meningkat, Rupiah Melemah ke Level Rp 14.610

Pasar merespon negatif atas ketegangan yang kembali terjadi antara AS dan Tiongkok.
Agatha Olivia Victoria
24 Juli 2020, 17:41
Ketegangan AS-Tiongkok Meningkat, Rupiah Melemah ke Level Rp 14.610
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS (USD) di tempat penukaran uang. Rupiah kembali melemah terhadap dolar, Jumat (24/7) sore setelah ketegangan AS dan Tiongkok kembali mencuat.

Nilai tukar rupiah pada pasar spot sore ini, Jumat (24/7) melemah 0,21% ke level Rp 14.610 per dolar Amerika Serikat. Penurunan kurs rupiah pada penutupan dipengaruhi sejumlah sentimen global, baik data pengangguran awal Negeri Paman Sam hingga meningkatnya ketegangan negara itu dengan Tiongkok. 

Pelemahan nilai tukar juga dialami sebagian mata uang Asia. Mengutip Bloomberg, dolar Hong Kong turun 0,01%, dolar Taiwan 0,13%, won Korea Selatan 0,34%, rupee India 0,09%, yuan Tiongkok 0,17%, dan ringgit Malaysia 0,1%.

Sementara itu, yen Jepang berhasil menguat 0,5%, dolar Singapura 0,06%, peso Filipina 0,06%, dan baht Thailand 0,1%. Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS pun melemah 0,01% ke level 94,83.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), mata uang Garuda naik 55 poin ke level Rp 14.614 per dolar AS.

Advertisement

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebut rilis data ekonomi AS yang mengecewakan menjadi salah satu penyebab tertekannya nilai tukar. 

"Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan klaim tunjangan pengangguran AS meningkat untuk pertama kalinya dalam enam belas minggu," ujar Ibrahim kepada Katadata.co.id, Jumat (24/7).

Klaim awal pengangguran AS melonjak menjadi 1,42 juta per akhir pekan lalu. Angka klaim ini meningkat 109.000 dari pekan sebelumnya 1,31 juta di tengah harapan para ekonom akan perbaikan angka pengangguran AS. 

Klaim pengangguran meningkat untuk pertama kalinya sejak akhir Maret. Namun, angka ini memang masih jauh di bawah rekor tertinggi yang pernah dicapai pada 28 Maret 2020 sebesar 6,87 juta.

Selain itu, Ibrahim menilai pasar merespon negatif atas ketegangan yang kembali terjadi antara AS dan Tiongkok. "Setelah AS meminta Beijing untuk menutup kantor konsulat diplomatiknya di Houston," kata dia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin sebelumnya mengingatkan akan ada balasan setimpal jika aksi itu tak dikoreksi. Namun, tak lama setelah pernyataan itu, pemerintah Tiongkok akhirnya merealisasikam ancamannya.

Pada Jum'at (24/7), Tiongkok meminta pemerintahan Donald Trump untuk menutup konsulatnya di kota Chengdu, provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya.

“Langkah AS secara serius melanggar hukum internasional, norma dasar hubungan internasional, dan ketentuan konvensi konsuler, ini sangat merugikan hubungan Tiongkok-AS," kata kementerian luar negeri Tiongkok dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters.

Di Twitter, Hua Chunying, juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok, mengatakan perintah meninggalkan konsulat Chengdu sebagai "tanggapan yang sah dan perlu terhadap langkah provokatif sepihak oleh AS untuk menuntut penutupan Konsulat Jenderal Tiongkok di Houston," dikutip dari CNN.

Hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri AS dan kedutaan AS belum memberikan komentar atas permintaan tersebut.

Di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian dunia, Ibrahim pun memperkirakan rupiah akan menguat tipis pada perdagangan pekan depan di level Rp 14.580-14.660 per dolar AS.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait