Perkuat Shopee di Asia Tenggara, Sea Group Cari Pendanaan Rp 21 T

Sea Group bencana mencari pendanaan US$ 1,5 miliar untuk memperkuat bisnis Shopee bersaing dengan bisnis e-commerce lain di Asia Tenggara.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
11 Maret 2019, 13:14
Shopee
ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Chief Executive Officer Shopee Chris Fang (tengah kiri), Head Of Operations Shopee Handhika Jahja (tengah kanan), Vice President Consumer Deposit Bank Mandiri Anki Tienannsari (kanan) dan aktor Gading Marten (kiri) meresmikan promosi aplikasi mobile belanja "Shopee" di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (26/9).

Sea Group mengumumkan rencana perusahaan menggalang pendanaan US$ 1,5 miliar atau setara dengan Rp 21 triliun. Hal ini untuk mendorong bisnis anak usahanya, yakni Shopee agar bisa bersaing dengan e-commerce lain di Asia Tenggara.

Dilansir dari TechCrunch, Sea Group akan menawarkan 60 juta saham kelas A dengan harga US$ 22,5 per saham atau sekitar Rp 315 ribu. Dari aksi korporasi ini, perusahaan berpotensi meraih dana segar maksimal US$ 1,35 miliar atau  sekitar 19 triliun. Namun, dana yang terkumpul berpotensi bertambah US$ 202 juta atau sekitar Rp 2,8 miliar jika penjamin emisi mengeksekusi 9 juta saham, sehingga total dana yang terkumpul mencapai US$ 1,5 miliar.

(Baca: Shopee Kaji Ekspor Produk Lokal ke Enam Negara)

Sea Group mengatakan hendak menggunakan dana tersebut untuk ekspansi bisnis dan keperluan perusahaan umum lainnya. Perusahaan ini juga memiliki unit bisnis game online bernama Garena dan pembayaran digital bernama AirPay dan Shopee sebagai bisnis andalan perusahaan beberapa waktu terakhir.

Sea Group tercatat telah melantai di bursa saham Amerika Serikat sejak 2017. Hingga saat ini, kapitalisasi pasarnya mencapai lebih dari US$ 8 miliar atau setara Rp 112 triliun. Dari sekian banyak lini bisnisnya, Garena disebut sebagai salah satu investasi perusahaan yang sudah menghasilkan keuntungan, seiring dengan pertumbuhan bisnisnya.

Sementara Shopee justru saat ini  dianggap belum menguntungkan, meski transaksinya di tahun lalu menembus US$ 10 miliar atau sekitar Rp 140 triliun. Sebab, Shopee masih membukukan rugi bersih US$ 893 juta atau sekitar Rp 12,5 triliun padaa 2018.

(Baca: Penjualan E-Commerce Diklaim Naik 70% Saat Imlek)

Meski demikian, Shopee tengah menghadapi persaingan yang ketat di Asia Tenggara karena memiliki kompetitor yang sebagian besar berhubungan dengan Alibaba Group. Grup ini memiliki sejumlah perusahaan ternama, di antaranya AliExpress, Lazada, dan Tokopedia.

Sebagai informasi, Alibaba menyebut bisnis e-commerce internasionalnya telah menghasilkan keuntungan sebesar US$ 849 juta atau sekitar Rp 12 miliar selama kuartal terakhir dengan peningkatan tahunan sebesar 23 %.

Editor: Ekarina

Video Pilihan

Artikel Terkait