Kementerian ESDM Bantah Penangkapan Karbon Bisa Ganggu Target Bauran EBT

Image title
28 November 2024, 13:47
Petugas memeriksa keran pipa sumur saat proses injeksi CO2 di sumur JTB-161 Mundu, Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (26/10/2022).
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara./hp.
Petugas memeriksa keran pipa sumur saat proses injeksi CO2 di sumur JTB-161 Mundu, Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (26/10/2022).

Ringkasan

  • Perubahan iklim telah mencapai tahap kritis dan berdampak pada cuaca, salah satunya mempercepat siklus banjir di Indonesia.
  • Periode 2015-2024 tercatat sebagai periode terpanas, dengan anomali suhu pada 2024 melampaui kesepakatan Paris.
  • Peningkatan curah hujan ekstrem berkorelasi dengan kenaikan suhu dan konsentrasi Gas Rumah Kaca, menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir.
! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan program penangkapan karbon atau carbon capture storage dan carbon capture utilization storage (CCS/CCUS) tidak akan menggangu target bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia.

Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Kementeriam ESDM, Noor Arifin Muhammad, mengatakan kedua proyek tersebut akan jalan sendiri-sendiri dan tidak akan mengganggu satu sama lainya.

"Tidak ada distraksinya. Jadi EBT terus, kemudian CCUS sendiri," ujar Noor dalam diskusi, di Jakarta, Kamis (28/11).

Noor mengatakan proyek CCS/CCUS menjadi salah satu kegiatan yang tengah dilakukan oleh perusahaan minyak dunia untuk dapat memenuhi kualifikasi perdagangan minyak internasional. Pasalnya, saat ini beberapa negara di Eropa dan Jepang sudah mulai mempertimbangkan hasil minyak bumi dari perusahaan yang melaksanakan penerapan teknologi CCS/CCUS dalam kegiatan eksploitasinya.

Noor mengatakan CCS merupakan salah satu metode atau teknik untuk menurunkan emisi dan menjadi sangat efektif karena si karbon atau emisi ini diinjeksikan untuk secara permanen. Meski begitu, dalam praktiknya, implementasi CCS/CCUS sulit berkembang karena mahalnya teknologi dan juga manfaat yang tidak secara langsung.

"Jadi setiap komponennya itu memang harus khusus dan itu lebih mahal dari instalasi untuk migas yang non-CO2 yang biasa. Jadi kalau di dalam migas, CO2 ini kan keluarnya bersamaan dengan minyak yang kemudian langsung di-separate, langsung dipisahkan," ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Djati Waluyo

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...