Bahlil Sebut Potensi Geotermal Sampai 27 GW, Baru 10% yang Dimanfaatkan

Image title
18 September 2025, 11:27
Foto udara Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (15/9/2025). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesia merupakan negara dengan poten
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nz
Foto udara Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (15/9/2025). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia, mencapai sekitar 40 persen dari total potensi global atau sekitar 23,7 gigawatt (GW) dan menargetkan penambahan kapasitas PLTP sebesar 5,2 GW pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034. ANTA
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Indonesia baru memanfaatkan sekitar 10% dari total cadangan geotermal nasional yang mencapai 27 gigawatt (GW).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan persoalan investasi belanja modal yang tinggi, regulasi yang berbelit-belit masih menjadi tantangan. Ini membuat investor enggan masuk ke sektor geotermal. Selain itu, keterbatasan jaringan transmisi listrik juga menjadi masalah utama. Banyak wilayah dengan potensi geotermal tinggi belum terhubung dengan jaringan sehingga pengembang kesulitan menjual listrik yang dihasilkan. 

“Artinya, masih ada 90% potensi geotermal yang belum kita kelola. Padahal ini adalah energi masa depan,” ujar Bahlil dalam acara The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025, Rabu (17/9).

Untuk mengatasi hal ini, dia mengatakan pemerintah telah menetapkan rencana pembangunan jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit (kms) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2035.

“Kalau sumber dayanya ada tapi transmisinya belum, bagaimana mungkin investor atau PLN bisa mengerjakan sesuai target. Karena itu, kami dorong pembangunan transmisi sebagai komitmen percepatan energi baru terbarukan,” katanya.

Bahlil menyebut geotermal sebagai “emas uap” karena nilai ekonominya yang tinggi. Ia mencontohkan, perusahaan pengelola geotermal yang melantai di bursa saham kerap mengalami lonjakan harga saham secara signifikan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...