Wamen LH Minta MBG Jadi Contoh Pengelolaan Sampah dan Limbah
Wakil Menteri Lingkungan Hidup atau Wamen LH Diaz Hendropriyono meminta pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis alias MBG menjadi contoh bagi pengelolaan sampah dan limbah yang lebih baik.
"Program MBG ini bagus, anak-anak kelihatan senang, porsinya pas, dan juga memperhatikan anak yang alergi. Tapi lebih dari itu, kita juga ingin pastikan pengelolaan sampahnya menjadi contoh terbaik," ujar Waman LH Diaz, Jakarta, Sabtu (20/9).
Dia mengatakan hal itu setelah meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Halim Perdana Kusuma dan sejumlah sekolah penerima MBG di Jakarta Timur, Jumat (19/9).
Dia menyoroti bahwa SPPG Halim melayani siswa di 15 sekolah dengan kapasitas dapur mencapai lebih dari 6.000 porsi per hari.
Ia mengatakan pengelolaan sampah dilakukan melalui pemilahan organik dan anorganik, pemanfaatan sampah organik sebagai pakan ternak, serta kerja sama dengan bank sampah. Dapur juga dilengkapi instalasi pengolahan air limbah sederhana.
"Dengan pengomposan, kita bukan hanya mengurangi beban TPA atau Tempat Pemrosesan Akhir, tetapi juga menciptakan manfaat baru dari sampah organik," kata Diaz.
Sebagai bentuk dukungan, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyerahkan dua komposter berkapasitas 30 sampai 50 kilogram per hari, serta unit ipal tambahan bagi dapur SPPG Halim.
Komposter itu dapat mengolah sampah organik menjadi kompos sekaligus menghasilkan pupuk organik cair yang bermanfaat bagi tanaman sekitar.
“Saya berharap SPPG Halim ini bisa menjadi contoh yang paling baik untuk dapur-dapur lain, paling tidak dalam hal pengelolaan sampah dan limbah,” kata dia.
Badan Gizi Nasional atau BGN menargetkan pembangunan 30 ribu SPPG hingga akhir 2025. Dengan kapasitas rata-rata 3.000 siswa per unit, timbulan sampah dari program ini diperkirakan mencapai 800 ton per hari. Oleh karena itu, pengelolaan sampah yang terpadu dan tepat guna menjadi kunci keberlanjutan program.
