Indonesia Gandeng Swedia Kerja Sama Iklim Berbasis Kredit Karbon di COP30
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendorong kerja sama konkret dengan Swedia untuk mempercepat penurunan emisi melalui skema nilai ekonomi karbon Indonesia. Kerja sama ini akan menarik perusahaan-perusahaan Swedia untuk masuk ke dalam perdagangan karbon dengan Indonesia.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq mengatakan kerja sama ini akan ditindaklanjuti dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) antara kedua negara.
"Kami membuka upaya besar kepada teman-teman bisnis di Swedia melalui Pemerintah Swedia, untuk ikut berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca melalui skema nilai ekonomi karbon," ujar Hanif usai pertemuan bilateral yang berlangsung di Paviliun Swedia di COP30, Belem, Brasil.
Ia mengatakan COP30 harus mengukur kredibilitas melalui aksi nyata. "Kredibilitas COP30 akan diukur oleh aksi, bukan janji. Indonesia siap bergandengan tangan dengan mitra global untuk mengubah ambisi menjadi dampak," ujar Hanif, seperti dikutip dari keterangan resmi KLH, Rabu (12/11).
Diana Janse, Sekretaris Negara Bidang Pengembangan Kerja Sama Internasional dan Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri Swedia, mendukung kerja sama ini.
"Kami berbicara tentang hubungan baik kedua negara. Ada banyak hal yang sedang berlangsung, terutama terkait dengan COP30, ambisi Indonesia untuk fokus pada pengelolaan sampah, dan bagaimana Swedia dapat mendukung upaya tersebut," kata Diana.
Percepat Pembiayaan Iklim
Kesiapan Indonesia diperkuat dengan penyampaian Second National Determined Contributions (SNDC) tepat sebelum COP30. Dokumen tersebut mempertajam lintasan penurunan emisi seraya menjaga pertumbuhan ekonomi menuju Net Zero Emission 2060 atau lebih cepat.
Untuk mempercepat transaksi dan pembiayaan iklim yang berintegritas, Indonesia mendorong pemanfaatan Pasal 6 Perjanjian Paris (Article 6) sekaligus membuka peluang kolaborasi proyek karbon antara pelaku usaha Indonesia dan Swedia.
Di Paviliun Indonesia yang ada di COP30, pemerintah memfasilitasi Kerja Sama Iklim Berbasis Kredit Karbon Berintegritas Tinggi dengan menawarkan sekitar 90 juta ton kredit karbon berintegritas.
KLH menilai penguatan kemitraan bilateral dengan Swedia akan melengkapi proses multilateral yang membutuhkan waktu panjang. Kerja sama ini sekaligus memperluas partisipasi sektor swasta untuk mencapai target penurunan emisi dan mendorong investasi hijau, pengelolaan dan pemulihan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.
