Media Asing Soroti Badai di Asia yang Sebabkan Lebih dari 900 Orang Tewas
Sejumlah media asing menyoroti badai dan siklon yang memicu banjir dan tanah longsor yang meluas di seluruh Asia, menewaskan lebih dari 900 orang dan menyebabkan ratusan lainnya masih hilang.
Hujan deras yang dipicu Siklon Senyar menghantam sebagian wilayah Indonesia, Thailand, dan Malaysia minggu ini ketika badai tropis langka terbentuk di Selat Malaka – jalur air sempit yang memisahkan Pulau Sumatra di Indonesia dari kedua negara lainnya.
Sri Lanka dilanda badai lain yang hujan derasnya kini mendekati pantai selatan India.
Menurut laporan Reuters, cuaca ekstrem tersebut telah merenggut nyawa setidaknya 442 orang di Indonesia, 334 orang di Sri Lanka, 162 orang di Thailand, dan dua orang di Malaysia.
Indonesia
Tim penyelamat di Indonesia sedang berjuang untuk mencapai wilayah-wilayah terdampak paling parah di Sumatra, tempat Siklon Senyar menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang.
Setidaknya 442 orang tewas, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (30/11). Sebanyak 406 orang lainnya dilaporkan masih hilang.
Rekaman video menunjukkan helikopter mengirimkan pasokan ke pulau yang terkenal dengan hutan hujannya yang rimbun, gunung berapi yang masih aktif, dan populasi orang utan yang terancam punah.
"Saat banjir, semuanya musnah," ujar seorang warga Bireuen, Aceh, di provinsi paling utara Sumatra, kepada Reuters.
"Saya ingin menyelamatkan pakaian saya, tetapi rumah saya runtuh."
Maulidin, seorang warga Aceh Utara berusia 41 tahun, meninggalkan rumahnya bersama keluarganya ketika ia terbangun karena suara banjir.
"Rumah saya sudah hancur, semua barang saya hancur, dan lumpur ada di dalamnya," ujarnya kepada AFP.
Tim penyelamat telah berupaya menjangkau warga yang terdampar akibat banjir sejak Selasa ketika hujan monsun menyebabkan sungai meluap di Provinsi Sumatra Utara. Rekaman media lokal menunjukkan orang-orang menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi korban banjir.
Di Pulau Sumatra, pihak berwenang menyebut beberapa warga terpaksa mencuri makanan dan air untuk bertahan hidup. "Penjarahan terjadi sebelum bantuan logistik tiba. Warga tidak tahu bantuan akan dating dan khawatir mereka akan kelaparan," kata juru bicara Kepolisian setempat Ferry Walintukan, seperti dikutip AP.
Thailand
Di seberang selat, setidaknya 162 orang tewas akibat cuaca ekstrem di Thailand selatan, kata juru bicara pemerintah Siripong Angkasakulkiat kepada Reuters, Sabtu (29/11).
Sekitar 3,5 juta orang telah terdampak bencana banjir di Thailand. Otoritas setempat mengangkut pasien dan mengirimkan pasokan penting, termasuk tabung oksigen, ke masyarakat yang terendam.
Amphorn Kaeofengkro dan keluarganya yang beranggotakan delapan orang tidak sempat menyelamatkan diri ketika banjir melanda rumah mereka di Kota Hat Yai, Sabtu (29/11) lalu.
Mereka bergegas ke lantai dua saat air mulai naik, dan akhirnya menghabiskan 48 jam bertengger di atas meja, mesin cuci, dan kusen jendela.
"Kami tidak memikirkan hal lain selain bertahan hidup," ujar perempuan berusia 44 tahun itu kepada Reuters. Keluarganya mulai membersihkan rumah setelah air surut.
"Terkadang kami duduk di tepi jendela dan harus mengangkat kaki agar tidak terlalu dalam terendam air."
Kota Hat Yai adalah wilayah yang paling parah terkena dampak di Thailand. Kota itu dilanda hujan lebat yang terjadi sekali dalam 300 tahun, membawa banjir setinggi lebih dari delapan kaki pada hari Selasa (26/11), dan memutus akses ke bangsal bersalin yang menampung 30 bayi baru lahir.
Belum jelas kapan listrik akan kembali menyala di wilayah yang telah dikosongkan oleh berbagai lembaga, termasuk lembaga yang telah menyediakan evakuasi, bantuan medis, dan pasokan penting.
"Hat Yai merupakan bagian dari wilayah Songkhla, Thailand, tempat pemerintah mengumumkan keadaan darurat pada hari Selasa (26/11) akibat banjir parah," ujar seorang pejabat Thailand di X, seperti dikutip CNN.
Kementerian Pariwisata Thailand mengatakan kepada CNN bahwa sepuluh wisatawan asal Australia, Inggris, Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan Afrika Selatan diselamatkan di Provinsi Songkhla pada hari Jumat (28/11).
"Situasi telah membaik secara signifikan. Ketinggian air hampir sepenuhnya surut, hanya beberapa wilayah yang masih terendam banjir," kata seorang juru bicara.
Sri Lanka
Menurut laporan Reuters, lebih dari setengah juta orang merasakan amukan Siklon Dithwa, yang memicu tanah longsor dan banjir pada hari Jumat (28/11).
Setidaknya 334 orang tewas dan lebih dari 1,1 juta orang terdampak badai, menurut laporan dari Pusat Penanggulangan Bencana Sri Lanka.
AP melaporkan lebih dari 25 ribu rumah hancur dan 147 ribu orang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara yang dikelola pemerintah.
Mallika Kumari termasuk di antara lebih dari 78 ribu orang yang dievakuasi ke pusat-pusat bantuan setelah rumahnya terendam banjir dengan cepat. Sebagian besar pusat bantuan itu berlokasi di sekolah-sekolah.
“Saya pertama kali mendengar tentang peringatan banjir di TV, tetapi kami tidak pernah menyangka sungai akan meluap secepat ini. Kami langsung bergegas keluar rumah tanpa membawa apa pun,” kata Kumari seperti dikutip AP.
"Kami bahkan belum sarapan. Dua putra saya terserang flu. Saya harus memberi mereka obat. Saya sudah membawa beberapa kantong sampah untuk mengumpulkan pakaian mereka."
Dalam kesibukan itu, Kumari meninggalkan kucingnya, yang kemudian dijemput oleh kapal angkatan laut dan dibawa ke daratan.
Otoritas setempat mengatakan kepada Reuters bahwa sekitar 191 orang masih hilang di Sri Lanka dan sebagian besar rumah di daerah dataran rendah dekat ibu kota, Kolombo, terendam air dan tanpa listrik.
Beberapa warga memilih untuk tetap tinggal di lantai atas rumah yang sebagian terendam untuk melindungi barang-barang mereka.
Selvi, seorang warga berusia 46 tahun dari pinggiran kota Wennawatte, Kolombo, melarikan diri dari rumahnya dengan empat tas berisi pakaian dan barang-barang lainnya. "Rumah saya benar-benar terendam banjir. Saya tidak tahu harus ke mana, tetapi saya berharap ada tempat berlindung yang aman di mana saya bisa membawa keluarga saya," ujarnya kepada AFP.
Di Masjid Dalugala Thakiya, para relawan menyiapkan paket nasi berisi ayam dan kari dhal untuk para korban banjir.
"Kami menerima lebih banyak permintaan makanan karena orang-orang yang bekerja harian tidak dapat menemukan pekerjaan dan tabungan mereka menipis," ujar penyelenggara makanan, Risham Ahmed, kepada Reuters.
Malaysia
Di Malaysia, dua orang dipastikan tewas setelah Siklon Senyar melanda, pada Jumat (22/11) dini hari, lapor Reuters.
Sekitar 34 ribu orang dievakuasi sebelum badai datang, tetapi Gon Qasim dan suaminya kurang beruntung. Mereka terdampar di sebuah ladang di negara bagian Perlis utara ketika banjir menghalangi mereka untuk melarikan diri.
Pasangan lansia itu akhirnya diselamatkan oleh salah satu anak mereka dan dibawa ke pusat evakuasi di ibu kota negara bagian Kangar, tempat ratusan keluarga berlindung di tenda-tenda yang disediakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setempat, lapor Reuters.
"Saya di dalam, dan saya tidak bisa keluar. Saat saya keluar, tidak ada tempat berlindung selain ladang," ujar Gon, 73 tahun, kepada para wartawan.
"Airnya seperti lautan. Seperti itulah kelihatannya."
Perubahan Iklim
Para ilmuwan memperingatkan Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap perubahan iklim.
Cuaca ekstrem saat ini di kawasan tersebut dapat disebabkan oleh interaksi dua sistem aktif, yaitu Topan Koto di Filipina dan pembentukan Siklon Senyar yang tidak biasa di Selat Malaka, ungkap para ahli meteorologi kepada Reuters.
Di tempat lain di Asia Tenggara bulan ini, banjir bandang melanda sebagian wilayah Vietnam, tempat banjir dan tanah longsor menewaskan puluhan orang.
Pada November lalu, Filipina juga dilanda dua topan mematikan – Kalmaegi dan Fung-wong – yang menewaskan ratusan orang dan memaksa lebih dari 1,4 juta orang mengungsi.
"Musim panas ini, Asia Tenggara juga mengalami suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan sedikit jeda dari panas dan kelembapan yang tak tertahankan," ujar ahli iklim Maximiliano Herrera kepada CNN.
