Mimpi Buruk Pemanasan Global Akibat Timbunan Sampah Plastik di Samudra Pasifik

Hari Widowati
6 Mei 2026, 13:57
sampah plastik, mikroplastik, pemanasan global
The Ocean Cleanup
The Ocean Cleanup memasang jaring untuk mengumpulkan sampah plastik yang ada di Samudra Pasifik. Sampah plastik yang terkumpul di pusaran yang ada Samudra Pasifik sering disebut The Great Pacific Garbage Patch, dengan luas lebih dari dua kali lipat negara bagian Texas.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Di Samudra Pasifik, tepatnya di antara Hawaii dan California, terdapat Great Pacific Garbage Patch, sebuah pusaran sampah plastik yang luasnya lebih dari dua kali lipat luas negara bagian Texas. Saat potongan-potongan plastik saling bertabrakan, mereka hancur menjadi partikel-partikel yang cukup kecil untuk terbawa angin ke udara. 

Penelitian terbaru menunjukkan partikel-partikel plastik yang terlepas ke udara itu bakal memiliki dampak iklim yang dapat memengaruhi kita semua: pemanasan global

Great Pacific Garbage Patch merupakan sumber utama mikroplastik dan nanoplastik yang terbawa udara. Namun, ada banyak tempat lain di mana partikel mikroplastik dapat terhempas ke langit, termasuk dari tempat pembuangan sampah, sampah di pinggir jalan, dan ban mobil.

Sebuah tim ilmuwan dari Tiongkok dan AS telah mempelajari komposisi dan perilaku plastik-plastik ini. Menurut studi yang diterbitkan di jurnal Nature, pada Senin (4/5), para peneliti menemukan bahwa mikroplastik dan nanoplastik berkontribusi terhadap pemanasan global.

Sebagian besar penelitian tentang mikroplastik berfokus pada bahaya kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkannya. "Laporan ini mengungkap hubungan yang selama ini terabaikan antara polusi plastik dan perubahan iklim,” kata Hongbo Fu, salah satu penulis studi dan ilmuwan atmosfer di Universitas Fudan di Shanghai, seperti dikutip CNN.

Para ilmuwan memfokuskan penelitian mereka pada mikroplastik — yang umumnya berukuran sebesar penghapus pensil atau lebih kecil — serta nanoplastik, yaitu partikel-partikel terkecil yang ukurannya berkali-kali lipat lebih kecil daripada lebar rambut manusia. Mereka menganalisis warna, ukuran, dan komposisi kimianya untuk memahami lebih lanjut bagaimana partikel-partikel tersebut berinteraksi dengan sinar matahari.

Mereka ingin mengetahui apakah partikel-partikel tersebut memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa — yang berarti partikel-partikel tersebut akan memberikan pengaruh pendinginan pada planet ini — atau apakah partikel-partikel tersebut menyerap sinar matahari, yang akan memberikan dampak pemanasan.

Penelitian sebelumnya menunjukkan kontribusi mikroplastik terhadap pemanasan global dapat diabaikan, tetapi analisis sering kali mengasumsikan partikel-partikel tersebut berwarna bening. Temuan terbaru dari para peneliti menunjukkan partikel mikroplastik yang mereka teliti berwarna-warni seperti pelangi.

Plastik berwarna, terutama merah, kuning, biru, dan hitam, menyerap cahaya sekitar 75 kali lebih banyak daripada plastik murni yang tidak berpigmen, demikian temuan studi tersebut. "Plastik-plastik tersebut berfungsi seperti kaos hitam, mereka menyerap panas,” kata Fu.

Ukuran juga menjadi faktor, meskipun dalam skala yang lebih kecil. Semakin kecil partikelnya, semakin banyak sinar matahari yang dapat diserapnya, demikian temuan laporan tersebut. “Nanoplastik berukuran sangat kecil namun sangat berpengaruh. Partikel ini bertahan lebih lama di udara dan, dengan massa yang sama, menyerap sinar matahari jauh lebih banyak daripada mikroplastik,” kata Fu.

Dampak Pemanasan Plastik Berubah Seiring Waktu

Para ilmuwan juga menemukan dampak pemanasan plastik dapat berubah seiring waktu. Mereka secara artifisial menuakan partikel-partikel tersebut di laboratorium menggunakan lampu ultraviolet dan menemukan partikel putih cenderung menguning. Artinya, mereka menyerap lebih banyak sinar matahari. Partikel merah, di sisi lain, kadang-kadang memutih, artinya mereka memantulkan lebih banyak cahaya.

"Sebagian besar partikel berwarna lebih gelap, baik karena memang awalnya begitu atau menjadi gelap saat mengambang di atmosfer dan menua," kata Drew Shindell, penulis studi dan profesor ilmu Bumi di Duke University. Kemajuan besar dari makalah ini adalah manusia dapat memastikan efek bersih dari hampir semua partikel ini lebih banyak memanaskan daripada mendinginkan Bumi.

Efek pemanasan mungkin kecil jika dilihat dari skala global, tetapi para ilmuwan menilai hal itu tidak bisa dianggap remeh. Mikroplastik dan nanoplastik menghasilkan dampak pemanasan sekitar 16% dari karbon hitam, atau jelaga, yang merupakan polutan udara yang sangat berbahaya.

Di wilayah laut tempat plastik terperangkap dalam arus yang berputar, seperti Great Pacific Garbage Patch, dampak pemanasan sangat terasa dan mungkin melebihi karbon hitam. “Potongan-potongan plastik yang menghantam potongan plastik lainnya lah yang menyebabkan aliran material yang sangat besar ke atmosfer,” kata Shindell.

Para ahli mengatakan hasil studi ini menarik dan memperkuat temuan sebelumnya, namun memiliki keterbatasan yang signifikan.

“Yang baru di sini adalah angka-angkanya,” kata Zamin Kanji, pemimpin kelompok di Laboratorium Fisika Atmosfer di ETH Zürich, Swiss, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Studi ini secara sistematis mengukur ukuran dan pigmen berbagai jenis plastik serta dampaknya terhadap sinar matahari.

Temuan bahwa mikroplastik memiliki dampak pemanasan bukanlah hal baru. Kani merujuk pada sebuah studi tahun 2021 yang menyimpulkan hal yang sama. “Angka dalam studi terbaru ini lebih tinggi,” kata Kanji kepada CNN. Namun, jurnal sebelumnya memperkirakan dampak tersebut kemungkinan akan meningkat seiring dengan ketersediaan data yang lebih banyak, meningkatnya produksi plastik, dan terurai-nya plastik yang sudah ada di lingkungan.

"Kita tidak akan mendapatkan gambaran lengkap tentang dampak iklim sampai kita memiliki data yang lebih baik mengenai berapa banyak plastik yang ada di atmosfer. Ini akan memakan waktu lama untuk mengukurnya secara akurat,” katanya.

Natalie Mahowald, Ketua Departemen Ilmu Bumi dan Atmosfer di Cornell University, yang juga tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan studi tersebut menunjukkan tingkat mikroplastik saat ini memiliki dampak iklim yang sangat kecil, meskipun hal itu dapat berubah jika tingkatnya meningkat secara signifikan.

“Menurut saya, dampak paling penting dari mikroplastik kemungkinan besar terkait dengan kesehatan, tetapi kita masih belum tahu banyak tentang hal itu,” kata Mahowald kepada CNN.

Para penulis studi mengatakan, sangat sulit untuk mengukur secara tepat berapa banyak partikel plastik yang ada di udara, tetapi mereka yakin meskipun ada ketidakpastian ini, dampak bersihnya adalah pemanasan. “Penelitian kami menunjukkan bahwa model iklim perlu diperbarui,” kata Fu.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...