Energi Hijau ASEAN Belum Mampu Suplai Kebutuhan AI dan Data Center
Kapasitas energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara saat ini dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pusat data yang kian melonjak. Terlebih lagi data center semakin diminati seiring melonjaknya penggunaan AI.
COO Integrated Urban Solutions di Sembcorp Gareth Wong menilai masalah terbesar bukan hanya pada ketersediaan energi terbarukan, melainkan kesesuaian antara lokasi sumber daya dengan infrastruktur pusat data.
“Daerah dengan potensi angin atau surya terbaik belum tentu cocok untuk pembangunan pusat data. Tantangan terbesar adalah bagaimana menyalurkan energi itu dengan efektif,” ujar Wong dalam NeutraDC Summit 2025 di Nusa Dua, Bali, Senin (25/8).
Sembcorp memiliki kapasitas energi terbarukan hingga 80 gigawatt. Namun, menurut Wong, kapasitas besar ini belum menjamin ketersediaan energi untuk pusat data jika jaringan distribusinya belum siap.
Salah satu hambatan utama di kawasan ASEAN yakni jaringan listrik bawah laut (subsea grid) yang sangat penting untuk menghubungkan pasokan energi antarwilayah. Tanpa infrastruktur yang memadai, energi terbarukan sulit dialirkan ke pusat data yang biasanya dibangun di kawasan industri atau kota besar dengan kebutuhan listrik tinggi.
Selain itu, regulasi dan perizinan masih menjadi tantangan. “Banyak orang mulai sadar bahwa energi terbarukan bukan solusi instan. Ada faktor lain yang harus dipikirkan, seperti ketersediaan jaringan listrik dan kepastian aturan yang mendukung,” kata Wong.
Sejumlah negara di ASEAN kini tengah mendorong pembangunan jaringan listrik regional untuk mendistribusikan energi secara lebih merata antarnegara. Langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan potensi energi surya, angin, dan hidro yang tersebar di berbagai wilayah.
Namun, menurut Wong, upaya itu masih menghadapi kendala pasokan peralatan dan keterbatasan infrastruktur. “Banyak penyedia teknologi memang sudah bekerja keras mencari solusi. Tetapi hambatan distribusi energi tetap menjadi tantangan yang perlu diselesaikan bersama,” ujarnya.
Wong menekankan kerja sama antarperusahaan dan antarnegara menjadi kunci keberhasilan transisi energi di kawasan dalam jangka panjang. Posisi Asia Tenggara yang berada di antara dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan Tiongkok, menuntut kawasan ini lebih solid dalam membangun kemandirian energi.
Selain persoalan teknis, isu kedaulatan energi, keberlanjutan, dan pemulihan energi harus diperhatikan. Menurut Wong, solusi energi bukan hanya membangun pembangkit baru, tetapi juga memastikan sistem energi dapat bertahan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Kesimpulannya, solusi hanya bisa dicapai kalau sektor publik dan swasta bekerja bersama, dengan bergerak secara bertahap dan konsisten menuju target energi yang lebih besar,” kata dia.
